Kamis, 04 Oktober 2018

" MUNGKINKAH INI POLITIK DOMINO JEBAKAN BATMAN, ALA RATNA SARUMPET "


Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID. M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
_____________________
Saudara-saudara KU. Terkadang kita harus berhenti sejenak untuk berfikir apa makna yg terkandung dalam setiap peristiwa. Sebagai makhluk yg berakal, *Renungan dan Tabayyun* itu penting, jangan terjebak dengan bahasa Simbolik. Refleksi Jum'at yg agung.

_____________________________________
Dalam teori *perang Sun Tzu*, ada 3 hal yang harus kita kenali dan kuasai sebelum melakukan peperangan, yaitu kenali diri sendiri, kenali lawan dan kenali kondisi wilayah atau arena perang (wilayah). Setelah mengenali 3 hal tersebut, hal selanjutnya yang mesti dilakukan adalah bagaimana mengemas sebuah situasi agar kelemahan kita tertutupi dengan mendongkrak sisi baik (kekuatan) yang kita miliki, sebaliknya juga menguatkan sisi lemah lawan dengan menutupi sisi – sisi baiknya. Selanjutnya, mengemas situasi arena perang agar lebih menguntungkan kita secara politik.

 *Playing Victim* , yaitu teknik memposisikan diri sebagai korban atau orang yang terluka demi mengelabui musuh dan lingkungan. Satu hal penting yang harus kita sadari adalah tidak ada yang kebetulan dalam dunia politik. Bisa jadi, beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, merupakan hasil rancangan atau design politik guna menggiring opini masyarakat.

Catatan, di atas memberikan ransangan terhadap kecerdasan Akademik kita untuk membaca Fenomena dibalik kejadian " Ratna Sarumpet". Tidaklah mungkin Sebagai aktor yg katanya Fokal menyuarakan Kebenaran dan hak-hak Rakya Jelata, mampu melakukan Pembohongan Publik yg melahirkan dentuman Pertentangan Peradaban. Perhatikan setiap Gestur yg ditampillan dapat dipahami terkandung maksud adanya "Jebakan Batman" guna memposisikan seseorang sebagai bahagian dari Irama yg di tayangkan.

Dalam dunia Kriminologi. Seseorang mampu menghacurkan diri,-nya sendiri untuk menarik orang lain agar terlibat dengannya. Atau mungkin Kejahatan yg dilakukan seseorang telah diketahui oleh lawan politik, hingga membuat Seseorang, menghancurkan dirinya guna mengalihkan perhatian kepada hal yg bukan sebenarnya. Kasus *Ratna Sarupait* bisa memiliki dampak *DOMINO* kalau dibiarkan bergulir atau ter-publikasikan kontinyu.

Pemandangan yg kurang memberikan pendidikan terhadap budaya bangsa Indonesia yg terkenal " *Bersahaja dan Ramah*". Karena saat ini kita disuguhi oleh *Hujatan dan Cemoohan* yg ditampilkan pada sebahagian MEDSOS tanpa ke-adab-an. Perhatikan setiap mereka Tanpa *Tabayyun* mempercayai Fenomena yg disampaikan. Apakah telah hilang "Hati Nurani" dalam melihat kejayaan untuk Negeri tercinta, INDONESIA PERSADA Zamrud Katulistiwa.

Dalam *dialektika Politik*, aktor tidak berdiri sendiri. Pasti ada maksud dibalik setiap peristiwa. Terkadang untuk menaikan popolaritas, seseorang dapat melakukan hal yg tidak wajar dilakukan, sehingga terkesan mengandung maksud, ada upaya menghancurkan seseorang dari dalam yg popolaritasnya mulai membuming. Inilah cara-cara penyusupan ala Komunis untuk menghancurkan sebuah peradaban Humanis dan Agamis.

( Saudara KU. Kita tidak mulia dengan Cara menghancurkan orang lain. Kita tidak dianggap hebat karena menebarkan berita *bohong*. Semua realita yg kita ciptakan pasti ada akibat-nya datang kemudia.berupa Kabahagian atau Kesedihan. Oleh Hb.IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Mamis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Jakarta, jum'at, 5, September,  2018 )..🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👆🏾👆🏾👆🏾👆🏾👆🏾👆🏾

Rabu, 03 Oktober 2018

" ANALISIS FENOMENOLOGI BENCANA DAN NASIONALISME "



Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID. M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA


Saudara-saudara KU. Terkadang kita baru memahami bahwa, hidup itu harus berbagi, karena sesungguh-nya dibalik senyuman pasti ada Tangisan tinggal Allah pergilirkan. *Refleksi Makna di balik Fenomena.*
_____________________________________________
Bencana adalah Fenomena Alam, ataupun apa nama-nya yg terjadi diluar jangkauan nalar manusia. Kejadian-nya selalu menggunakan Sistem *Acak Random* yg hanya Allah dan makhluk yg dikehendaki-Nya-laah yg tahu kapan dan dimana akan terjadi. Para ilmuan dengan sejuta teori hanya mampu menganalisa sebab musabab, setelah bencana terjadi. Apakah mungkin, *Tuhan mulai bosan mengurusi kita*, yg selalu tebar Pesona meneguhkan tahta tanpa rasa peduli terhadap derita Rakyat jelata.

Bencana, saat terjadi. *Perhatian bercampur kesedihan* serta *ta'jub* melihat kejadian tatkala Allah menyelamatkan Makluk-nya yg ikhlas dalam pengakuan, bagaikan kisah Ashabul Kaffi.  Apakah setiap kita akan serius dan ikhlas menghampiri Allah dalam peraduan dan Permohonan setelah ada *BENCANA*...??? Ataukah Allah memiliki Cara mengingatkan kita, bahwa jangang pernah selalu melihat ke atas tenpa berbagi kepada Rakyat Jelata.

Bangsa Indonesia, terkenal sebagai bangsa yg peduli satu dengan lainnya. Budaya Luhur kita seperti *Gotong rayong*, adalah bentuk dari rasa peduli sesama, tanpa membedakan Suku, Agama, Ras, Budaya dan adat istiadat, sebagai wujud dari rasa Nasionalisme bersama. Dahulu setiap kita tanpa pambri berikan bantuan yg terbaik kepada sesama. Saat ini, perhatian yg sama dapat dilihat kalau ada *Bencana*. Florence Litteur. Dalam Buku-Nya " *Personality Plus*" menyimpulkan : Perubahan karakter pada *Manusia* tergantung pada *Status dan Setuasi* dimana seseorang itu berada. Kalau berada di atas tahta atau bergelimang Harta penyakit yg menghinggapi manusia adalah " *LUPA* " pada sesamanya. Apakah bencana, satu-satunya cara Allah, membuat kita ingat bahwa pentingnya Silaturrahim dan membantu sesama insan.

Sebagai Akademisi, siapapun dia pasti memahami.  Nasionalisme, Kosmopolitan prahara Bencana. Orang Kaya, tergerak hati-Nya karena memdengar *suara gemuru* jeritan rakyat jelata. Lapar dan haus membuat *penjarahan* dianggap hal yg biasa. Perubahan Paradikma berbalut *"PARANOID*" terhadap massa depan berakibat terjadi *Eksodus* besar-besaran, yg pada akibat-nya melahirkan " *Sosial Shock* " atau kepanikan Sosial. *Teori Patologiy Sosial*, Perubahan adalah akibat dari " *Alokasi, Relokasi dan Rekonstruksi*"  yg dilakukan secara *Gotong Royong* ( bc. Ringan Sama di Jinjing dan Berat Sama di Pikul ). Akan melahirkan Generasi baru yg paham budayabkuhur Bangsa Indonesia Raya.

( Saudara KU. Sesungguh-nya kita ini, Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Kita selalu menyoroti Pemerintah, tetapi tidak pernah kita bertanya " apa yg telah kita perbuat untuk Bangsa dan Negara. Ayooo berbuat jangan bertanya, siapa dan mengapa, karena kita hanya sebab dari *Rencana Allah.* Oleh. Hb.IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis, Pelipur Lara di Timur Nusantara. Jakarta, 04, Oktober. 2018 ). 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩👍🏽👍🏽👍🏽🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼

Senin, 01 Oktober 2018

" AKIBAT MA'SIYAT GEMPA DAN TSUNAMI MENARI, FITNAH-PUN BERNYANYI



Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID. M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA


Saudara-saudara KU. Jatuh tertimpa tangga aja sakitnya sembilu. Tenggelam di Kolam renang aja paniknya minta ampun. Bagaimana tertimpa reruntuhan bangunan dan atau di guling Ombak Tsunami... Refleksi Hari Bathik NUSANTARA..
_____________________________________________
SABDA ABAL QOSIM  :

 _“Apabila perbuatan maksiat dilakukan secara terang-terangan pada umatku, maka Allah akan menimpakan adzab-Nya secara merata.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah di antara mereka saat itu ada orang-orang saleh? Beliau bersabda, “Benar.” Ummu Salamah kembali bertanya, “Lalu apa yang akan diterima oleh orang ini? Beliau menjawab, “Mereka mendapatkan adzab sebagaimana yang dirasakan masyarakat, kemudian mereka menuju ampunan Allah dan ridha-Nya.” (HR. Ahmad 6:304)_

 _“Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)_

Bencana adalah fenomena yg terjadi diluar prediksi sebahagian Ilmuan, sehingga korban berjatuhan dimana-mana.  Kehilangan, Kelapara, dan  Kesakitan serta kebingungan adalah pemandangan yg memilukan dan menyedihkan saat gempa dan Tsunami terjadi.  Fitnah mulai merajalela karena kurangnya Logistik yg dibagi, saling Curiga karena dibiarkan cari makan sendiri, yg pada akhirnya Penjarahan dimana-mana. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan kepada kita, seberapa besar perhatian *Pemerintah dan Kaum Bangsawan* (bc.Kaya Raya). Terhadap realita yg terjadi.

Gempa dan Tsunami, memberikan isyarat agar kita kembali, merajut Silaturrahim, agar kita mengukur seberapa besar perhatian kita terhadap Kaum Fakir, Miskin, anak2 Yatim, yg berada dalam *Gubuk Derita* terhimpit oleh harapan tak kunjung hadir dalam angan-angan..

(Saudar KU. Kita terlahir, telanjang bulat tanpa Harta dan Tahta. Kita jadi  hebat karena ada sebab do'a si Miskin dan anak-anak Yatim. Berbuatlah yg terbaik siapa tahu Engkau Mulia di hadapan Allah dan Rasulollah. Oleh. Hb.IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pujaan Hati. Papua, 2/10/2018)..🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽

Rabu, 26 September 2018

" *KONSPIRASI* MENEGASKAN *NASIONALISME* PRIBUMI "





Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID,M.Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA

Saudara-saudara KU. Semoga tulisan berikut ini, dapat merangsang cakrawala berfikir setiap kita yg merenungi makna dibalik setiap peristiwa..
___________________________________________

Konspirasi adalah kata yg membuat kita terbayang akan sebuah bentuk persengkokolan, permufakatan, atau komplotan yg bersifat rahasia dan dicap sebagai misteri di balik peristiwa-peristiwa kontroversi (bc. menimbulkan perdebatan ). Seperti muncul-nya Fenomena Ujaran kebencian/Hoax dan Migrasi Kaum Komunal ke berbagai Kota di Nusantara.

Dalam Sejarah, ditemukan bahwa Konspirasi juga menjadi alat Penguasa, guna meneguhkan eksistensi Kekuasaan-nya. Sejarah akan ditulis dan di izinkan terbit, apabila membawa keberuntunga terhadap langgeng-nya Kekuasaan. Namun-demikian, konspirasi terkadang juga  baik untuk dijadikan alat menegaskan " Simbol-simbol Nasionalisme " dalam kehidupan Ber-bangsa dan Ber-Negara. Semisal Contoh : Hitler dalam sebuah catatan Sejarah,  sangat khawatir  dan kesal dengan Propaganda "The Protocol of Zion milik Bangsa Yahudi, yg bercita-cita menjadi Pemimpin Dunia. Disaat masyarakat Jerman *Ras Arya*, mulai merasa bahwa Masyarakat Keturunna Yahudi, hanya sebagai "Parasit" yakni "Hanya mau memperole kemakmuran di Negeri Jerman,  tetapi menolak membela Hak-hak warga Negara untuk berjuang mepertahankan Integritas Bangsa dan Negara. Hitler,  menganggap Para migran Yahudi akan merugikan Jerman, maka dibuatlah Konspirasi, Gerakan antisemit (Antizionis) tahun 1933 s/d 1935.

Dalam pada itu. Sejarah G/30/S/PKI. dipahami oleh Akademisi masa kini,  sebagai sebuah Konspirasi menjatuhkan "Soekarno " yg dikala itu MPR-S telah menetapkan Sang-Proklamator sebagai Presiden Seumur hidup melalui TAP MPRS NO.III/MPRS/1963. Yang pada akhirnya menuai pertentangan, Perdebatan dan perpecahan di kalangat Elite ABRI Saat itu. Dewan jenderal, yg oleh DN. AIDIT,  sebagai orang-orang yg bertanggung jawab ditetapkan-nya "SOEKARNO " sebagai Presiden seumur Hidup. Sehingga dilakukan Propaganda untuk menghabisi para pihak yg dianggap ber-konpiraai terhadap lahir-nya  TAP MPRS 1963. yang melegitimaai SOEKARNO Sebagai Presiden RI seumur hidup. Konspirasi ini berakhir dengan dibunuh-nya Para Jendral yg jasad-nya di masuk-kan ke dalam lubang Buaya.

Disaat "*SUPERSEMAR*" di Keluarkan, Sejarah menyimpan Misteri dari proses terbit-nya hingga apa redaksi Surat Perintah 11 maret 1966, yg dianggap merupakan *Konspirasi* perebutan Kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.  yang saat itu  diangkat oleh Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban. Tepat pada 22 Februari 1967, Sukarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.

Konspirasi atau Propaganda, adalah alat yg selalu di gunakan dalam Misi, yg memiliki tujuan tertentu, baik itu terpaksa atau dipaksa. Konspirasi dianggap sangat baik apabila memiliki tujuan mengembalikan *Kedaulatan* dari *Eksistensi sebuah negara*. Meskipun memiliki resiko, seperti yg dilakukan oleh *Hitler*.

 *Dalam Teori Konspirasi*, ditemukan bahwa ada upaya untuk membongkar setiap siasat yg dilakukan untuk melemahkan simbol-simbol *Negara* atau adanya gerakan pelemahan terhadap Sistim Kedaulatan Ekonomi, Politik dan Pertahanan Keamanan, yg apa bila dibiarkan akan berdampak sestemik dan pada akhirnya terjadi perubahan paradikma tatanan Ber-bangsa dan Ber-negara.

Konspiraai yg saat ini dapat kita rasakan dampak-nya adalah Amandemem UUD 1945, pada *Pasal* yg mengatur Kewarganegaraan dan Syarat menjadi Presiden dan wakil Presiden. Oleh *Prof.Dr. Jacob elfinus Sahetapy, SH.M.A*. Beliau menghapus kata "Asli" mejadi Presiden Republik Indoneaia ialah Warga Negara Indonesia. Sadar atau tidak kita sadari, Konspirasi ini telah berkonstribusi terhadap polimik berkepanjangan di Republik yg kita Cintai.

( Saudara-Saudara KU. Apakah mungkin akan ada Dekrit Presiden untuk mengembalikan kemurnian UUD 1945 untuk dilaksanakan secara murni dan konsekwen. Ataukah memang kita tidak menganggap persoalan ini sebuah Konpirasi untuk menjegal *ANAK NEGERI ORISINIL INDONESIA RAYA AGAR MENJADI TUAN DI NEGERI SENDIRI* ...???. Kalau tidak demikian lalu apa yg salah dengan *NEGERI* ini. Sehebat-hebat-nya siasat yg mereka lakukan, tidak mungkin mampu mengalahkan apa yg telah Allah tetapkan bahwa Indonesia Raya adalah Tanah Pusaka yg selalu di jaga oleh para syuhada dan Kaum Mukhlisin yg iklas menyipkan Anak Negeri menjadi Tuan di Nusantata Zamrud Katulistiwa. Oleh.Hb.IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Kamis, 27. September, 2018 ). ☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 Merdeka atau Mati. Merana tak akan berarti...💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽👍🏽👍🏽👍🏽

" *SALAM NKRI DARI BUMI CENDERAWASI, BERBAGI SIAPA TAHU BERARTI* ''

Selasa, 25 September 2018

*SUPORTER BOLA DAN BUDAYA MALU DALAM PEMBERITAAN




Dr. Hb.IDRUS AL-HAMID, M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK  Papua

Saudara-saudara KU.. Rakyat Jelata pasti bangga,  jikalau kita mengangkat harkat dan martabat mereka dalam kelangsungan hidup guna reposisi Sosial. Itulah harapan Leluhur Pendiri Bangsa dalam kalimat " Keasilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia,  bukan Indo-mie Instan.. Baca Renungi makna dibalik peristiwa.
__________________________________________

Disaat, *ANAK NEGERI* menyuarakan sulit-nya mencari lapangan Kejra, pada saat yg sama, *Tenaga Kerja Aseng* di datangkan sebagai tenaga *Kerja Kasar* yg sesungguh-nya *ANAK NEGERI* pun-bisa mengerjakan. Namun nyata-nya. Teriakan mereka tidak menjadi  *TOP* dalam pemberitaan di Indonesia Raya. Sebahagian besar MEDIA, kaku tak mampu menyuarakan apa-apa mingkin karena di-cekik oleh Sang Naga Merah.

Disaat Kasus BLBI dan SENTURI, yg mampu menyeret berbagai *Elite Politik*  di suarakan, hingga DPR RI, Membentuk PANSUS sebagai wujud keseriusan mereka untuk memperjuangka kerugian yg di alami oleh Negara. Namun berita yg tersebar di media bagaikan Musim Langsat, tergantung harga di Pasaran.

Sangat Luar Biasa " ILC " sebagai acara TOP dan terpopulear, mengangkat Tema #ILC, Suporter Bola, dalam Diskusi yg dikemukakan mengesankan telah hilang nilai-nilai Humanis dalam masyarakat "INDONESIA RAYA". Berita tentang terbunuh-nya seorang Suporter sebagai akibat dari pengeroyokan, menjadi berita TOP di seluruh Media di Nusantara. Yg seakan menutupi seluruh berita tentang hiruk pikuk, Politik yg ada di Negeri ini.

Seharus-nya berita yg dimuat terlahir dari Rasa Malu melihat ketimpangan Ekonomi sosial dalam masyarakat, seperti  halnya *"BPJS"* Mengalami *Defisit anggaran*, sehingga Rakyat Jelata tidak bisa 1dilayani saat ke Rumah Sakit Menunjukkan *Kartu Indonesia Sehat* apalagi di Timur Nusantara yg *obat sakit gigi* aja harus menggunakan Resep Dokter dengan bayaran tak terkirakan. Pasti masyarakat akan marah dan menganggap ada upaya mengalihkan perhatian dalam Pemberitaan. Ini-kah *NEGERI SETENGAH DEWA*, Yang selalu mudah memgatur irama Pemberitaan dalam " Dunia Panggung Sandiwara ".dan merupakan prahara Rakya Jelata.

( Saudara KU. Kita Merdeka bukan Pemberian Penjajah. Rakya Semesta di Nusantara mengangkat senjata merebut kembali *Harga Diri Bangsa Indonesia Raya*. Sudah seharusnya kita memberitakan realita sosial antara Harapan dan kenyataan tak berbanding lurus sesuai *komitmen Leluhur* Pendiri *Bangsa dan Negara Indoneaia Raya* . Ingat Bung. Nusantara adalah *TANAH PUSAKA* harus di-jaga dan di-pelihara. Oleh. Hb.IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara  di Timur Nusantata. Papua. 26, September- 2018 ).. ☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽

Minggu, 23 September 2018

DEMOKRASI KERAKYATAN BUKAN KULTUR PETASAN




Dr. Hb. IDRUS AL HAMID,  M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA

Saudara-saudara KU. Kaum Akademik, harus menjadi *PASAK* Kesatuan Bangsa. Di-mimbar Akademik atau Non-Akademik kita tebarkan Kecintaan kepada NKRI HARGA MATI. Kalau Bukan Kita siapalagi, kalau Bukan sekarang kapan lagi. Allah akan mumuji Hamba-NYA. Yg melakukan yg terbaik terhadap Ciptaan-NYA. Baca Renungi Makna..
________________________________________

Demokrasi ke-Rakyat-an, sebuah sistem yg di torehka oleh leluhur pendiri Bangsa pada dekade awal Kemerdekaan Indoneaia Raya. Demokrasi Kerakyata adalah sumber tata-nilai  yg tumbuh dan berkembang dalam Masyarakat Feodal di Indonesia. Pada Zaman Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya untuk memutuskan berbagai persoalan yg berdampak terhada EKO/POL/SOS/BUD. Maka-dari-itu, dalam sejarah ditemukan bahwa Raja2, bermusyawarah dengan Para Pembesar Kerajaan dan petugas kerajaan serta Rakya Jelata di PANDOPO dan ALUN-ALUN atau Balai pertemuan Para Raja.

Demokrasi Kerakyatan, adalah  *Sistem Demokrasi* yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan yg sesungguhnya wujud  dari refleksi akulturasi Nilai Agama dan Budaya yg telah ber-proses dari Abad ke 7.M. Hingga awal Abad ke 21. Dimana setiap upaya penyelesaian persoalan yg dihadapi oleh masyarakat selalu di awali Do'a dan Zikir bersama atau Acar pesta Rakya denga pementasan Pewayangan dan tarian-tarian dalam satu pekan.

Saat ini, Demokrasi Kerakyatan, yg dipimpin oleh Orang yg seakan penuh  **Hikmah dan Ke-bijaksana-an* bagaikan Musim *PETASAN*. Semua tampilan dalam riak dan gelombang Pesta Demokrasi layaknya *Kultur Petasan* semua bersama-sama menyuarakan Demokrasi Kerakyatan, yg adil dan beradab, di saat tahta jadi rebutan " *Nestapa Hidup Rakya Jelata* ".

Dekorasi Kerakyatan, memposisikan " Rakyat " sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, disaat memberikan mandat kepada setiap Politisi sangat berharap Nasip-nya berubah, Cita-cita dalam meraih harapan " *Baldatun Thoibbah wa Rabbun Ghafur* " NYATA ADANYA.  Ada kalimat : *Lebih baik makan Singkong dari pada Makan Roti tetapi mimpi*. " Lebih baik Percaya *Guru Ngaji* dari Pada Senyum Manis *Rentenir Lintah Mera* " menusuk Jiwa yg terpenjara dalam nestapa  Peradaban Indoneaia Raya.

Perhelatan *PILPRES* maupun *PELEG,* merupakan perwujudan dari *ijitihad* dalam ber-bangsa dan ber-negara. Bahwa sesungguhnya Kapal Besar yang namanya. " *N K R I* " harus sampap ke tujuan yg di harakan oleh *Leluhur Pendiri* Bangsa dan Negara. *MENANG* dan *KALA* bukan tujuan, karena sesungguhnya  Ber-bangsa dan Ber-negara adalah kemampuan *Mengukir Karya Nyata*  yg *Fenomenal* dan atau *Monumental berbasis Kultural NUSANTARA* yg terbentang dari Sabang hingga Merauka. *Bung* Jangan Pernah Menari denga  *GENDANG* Pewarta Kapital Naga Merah.

( Saudara-saudara KU. Ingat setiap kita akan di minta pertanggung jawaban. Rasa-nya Gimana Yaaa..__ Kalau Setiap Rakyat  di hadapan Allah menuntut pertanggung jawaban untuk mandat yg di berikan apa jadinya..  Di *Padang Ma'syar* memganut Paham *Demokrasi Ber-ke-Tuhanan Absolut*. Kita sedang ber-ikhtiar membangun Peradaban Bangsa, jangan pernah menebar kebencian terhadap Sesama *ANAK NEGERI*, karena sesungguh-nya Musah kita itu sama.___ Oleh. Hb.IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua, 24 - September - 2018 )...🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽

Senin, 17 September 2018

" AGAMA DAN BUDAYA PERSEKUSI__, DALAM SUKSESI PEMIMPIN BANGSA DAN NEGARA "


Dr.HABIB IDRUS AL-HAMID, M. Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA

Saudara-saudara KU.  Agama pasti kita pahami adalah perangkat Wahyu Ilahiyah, yg berkonatribusi terhadap Kedamaian dalam kehidupn Manusia, namun dewasa ini kenapa Isu Persekusi berirama Simbol Agama. Baca Siapa tahu ada "Hikmah".
___________________________________________

 *Disaat Kita Bedah Literasi Sejarah*  tentang Suksesi kepemimpinan dalam *Kelompok atau Negara* pada belahan Dunia mulai dari, EROPA, Amerika, dan negara-negara ASEAN, terlihat adanya *pertarungan dan perselisian* terjadi sebagai akibat dari upaya  " *Kriminalisasi Absolusitas Sistem* " yg telah di buat dan disepakati bersama. Awal-nya setiap kelempok mengusung Jargon " *Kerakyatan dan Kemakmuran* " namun pada akhir-nya reposisi Sosial jadi Pertarungan.

Persekusi telah diakui sebagai salah satu bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan sejak 1993 dengan diadopsi-nya Statuta Pengadilan Internasional untuk Rwanda (ICTR). Setahun kemudian, dalam Statuta Pengadilan Internasional untuk Kejahatan di Bekas Negara Yugoslavia (ICTY),  juga dimasukkan sebagai salah satu bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

Secara subtansial, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan, baik kekerasan psikologis maupun kekerasan fisik. Islam, Kristen Pritestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu, senantiasa mengajarkan pemeluknya kepada jalan kebenaran dan perdamaian. Akan tetapi, dalam banyak kasus, mengapa agama acapkali dijadikan alat justifikasi terhadap berbagai tindak kekerasan (bc. Radikal), tak terkecuali aksi terorisme.

Di Negara Maju, standar kehidupan yang tinggi dan *Pendapatan Nasional Bruto* (PNB) yg juga relatif tinggi, disertai dengan kemajuan Teknologi dan pembagian suber Kapital ekonomi yang merata dengan angka pertumbuhan 0,4% dan angka kematian bayi 8/1000 orang, dengan usia harapan hidup 79 tahun dan angka ketergantungan hanya 20%. Membuat masyarakat lebih berkonstribusi terhadap kedamaian dalam persoalan *Sukseai Kepemimpinan*.

 Lain hal-nya dengan Negara Berkembang, yang standar hidup Masyarakat sangat rendah, dengan Pendapatan Nasional Bruto rendah, serta ketergantungan terhadap pinjaman luar Negeri, akan berakibat pada pembagian sumber kapital Ekonomibtidak merata membuat Masyarakat rentan terhadap persoalan ketimpangan sosial, yang pada akibat-nya *budaya persekusi* bahagian dari fenomema yg tidak terhindarkan.

( Saudara-Saudara KU. Kita tidak sedang berperang bersama. Kita hanya melaksanakan *Amar* semuah proses *Demoratisaai Kerakyatan*, yg berkeadilan dan berkemajuan. Persekusi, Ujaran Kebencian dan menebar berita *Bohong* sesungguhnya bukan *Budaya Leluhur Bangsa Indonesia Raya*. Oleh. Hb. IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Palu, 18 September, 2018 ). 🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩 ☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽

" MUNGKINKAH INI POLITIK DOMINO JEBAKAN BATMAN, ALA RATNA SARUMPET "

Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID. M. Si Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA _____________________ Saudara-saudara KU. Terkadang kita harus berhen...