Sabtu, 30 Juni 2018

"*MUNGKINKAH ALUMNI PTKIN TERPENJARA DALAM PRAHARA ZAMAN* "



            Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID

Saudara-Saudara KU, Moderasi dalam ber-agama, melahirkan *Peradaban* tanpa *Kekerasan* itulah " Islam Wasyathiyah " dalam budaya Kaum Komunal ekspresi "Islam Rahmatan Lil 'alamiin.. Baca dan bagi ke sesama saudara sebangsa.
------------------------

Disaat *_Radikalisme, Terorisme, Rasisme, dan Islamophobia,_* merangsek masuk dalam Peradaban Hidup Manusia, maka soal-soal Fiqhiyah dianggap ideologi Gerakan, hingga setia orang terpenjara dengan Sandiwara kaum *_Segragasi Agama_*. Mereka memberikan *Nuansa Nilai* bahwa yg berbeda adalah Musuh bersama dan Negara-pun mereka Lawan. Kita pasti Paham "Cinta Tanah Air Bahagian dari IMAN" namun mereka salah Paham atau Paham Salah adalah bahagian dari *Gerakan Trans-Nasional maupun internasional* .

Kaum *Segragasi Agama* , berupaya dengan berbagai cara men-diskreditkan Pemahaman keberagamaan dalam sanubari *Anak Negeri Pelipur Lara* di Nusantara, dengan mimpi yg mempesona sehingga mereka terbuai dalam lamunan Prahara Zaman Kaum Melenial.

Kalau dahulu-kala kita belajar Agama jelas Guru Ngaji-nya, di Langgar atau Surau, pakai sarung buka Celana, selalu terbuka dan mudah mendengan lantunan suara Ngaji dalam deretan lampu pelita. Sang guru Ikhlas tanpa ratapan reposisi Sosial, karena mengharapkan Kasih Sayang Allah semata.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri ( *PTKIN* ) seantero Nusantara,  saat-nya kembali pada Tradisi keilmuan pendahulu Bangsa, yakni mengembangkan *Metode* Studi Islam dalam bingkai "* ISLAM WASYATHIYAH*"  ini bukan cerita tetapi NYATA, janganlah setiap kita mengotori Peradaban Bangsa dan Negara dengan membiarkan Kaum Segragasi Agama berkeliaran di mana-mana menebar Virus " TAQFIRIN" yang bukan bahagian dari *Akar Budaya* Bangsa Indonesia Raya...

( Saudara-Saudara KU, Sivitas Akademik dan Alumni PTKIN dimanpun Engkau berada. Bangsa ini *butuh* Karya *NYATA* bukan Karya Cerita, Sudah saat-nya kita menari dengan gendang sendiri. Biarlah Kaum *Segragasi Agama* merana dalam kubangan derita karena ditolak dimana-mana.. " Jangan Pernah setengah hati dan Jiwa, membela Harkat dan Martabat Bangsa dan Negara Indonesia Raya. Karena disinilah kita di *Lahirkan* dan di *Besarkan*.  Oleh. Habib. IDRUS AL-HAMID, Refleksi jiwa *MERAH DARA KU dan PUTIH TULANG KU.* Demi Allah KAUM TAQFIRIN MUSUH KAMI BERSAMA DI TIMUR NUSANTARA... Bumi Cendrawasih. (01/07/2018 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩)..

Kamis, 28 Juni 2018

" APAKAH... HALAL BIL HALAL PERISAI KESATUAN BANGSA"



               Dr. Habib IDRUS AL-HAMID


Saudara-Saudara KU  KH.ABD. WAHAB HASBULLAH Mampu melahirkan gagasan Orisinil Nusantara. Baca dan Renungi kontribusi *NYATA* Sang Ulama di Nusantara "

Pada tahun 1945 -1948, saat  kemerdekaan Indonesia di kumandangkan, banyak polemik dan perbedaan pandangan para tokoh bangsa, baik itu Kaum Nasionalis Kebangsaan Sekuler dan Kaum Nasionalis Kebangsaan Religius. Lalu Presiden Soekarno hendak melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi nasional meminta pandangan kepada Kiai Wahhab Hasbullah. Kiyai Wahab, usulkan diadakan silaturrahim, tetapi Presiden Soekarno ingin  istilah baru yang lebih spesifik. Kiai Wahhab mengusulkan nama halal bi halal yg digunakan hingga kini.

Filosofinya, bahwa orang yang merasa Bersalah dan bermusuhan satu dengan yg lain itu haram sifatnya maka di perlukan  halal Bil Halal Atau Islah sesama Anak Bangsa dan negara,  kerukunan dalam kesatuan.

Sepenggal Tulisan di atas apabila direnungi, sesungguh-nya Para Leluhur Pendiri Bangsa Indonesia Raya sungguh mulia sifat-nya dalam menjaga keutuhan NKRI. Mereka mengutamakan isi ketimbang cesing, karena isi adalah Nilai yg sebenarnya dan terlahir dengan makna Universal.

Kalau-lah, maksud dari Acara *Halal Bil Halal* untuk mengokohkan Silaturrahim sesama Anak Negeri, lalu kenapa *Pesta Demokrasi* seperti halnya  *PILKADA, PILPRES DAN PILEG* berakhir dengan suasana Kacau pada beberapa daerah di Nusantara ini. Kalau Laaah, *LUBER* diartikan oleh anak-anak Gaul ZAMAN NOW, adalah *LUBAYAR KURANG GUA BACOT*. Lalu apa yg sedang terjadi dengan Negeri ini Yaaaa Allah..???

Apakah Wajah demokrasi kita adalah *Demokrasi Kapital* atau *Liberal*. Mana Demokrasi *Kerakyatan yg Adil dan Beradab* sebagaimana awal diserukan oleh Leluhur Pendiri Bangsa saat *Halal Bil Halal* dirayakan di istana Republik Indonesia Raya tercinta. Kenapa setiap Lembaga Negara harus berhadap-hadapan dengan Anak Negeri Pemegang Kedaulatan, semisal *Reklamasi, Renovasi, Restorasi, Re-konstruksi, Re-produkai jajang-jangan memicu munculnya REVOLUSI SOSIAL*

Setidak-nya Acara Halal Bil Halal, mampu menghapus dan Me-maaf-kan peristiwa-peristiwa *Masa Lalu* yg mengakar dalam hati sanubari kita. Suka atau tidak suka kita adalah sebuah *Bangsa* yg sedang berada dalam " Pertarungan Global" dan perubahan Sosial yg dianggap Ekstrimis Kapitalisme, artinya Pemilik Modal sebagai Tamu di Nusantara  sedang atau telah menguasai Sumber-sumber Kapital Mikro hingga Makro, atau menguasai ketergantungan Rakyat Jelata yg menderita, hingga Bangsawan yg tak paham Cerita karena duduk dalam *Tahta Negeri Gedongan*.

 *BUNG...!!!* : Se-andai-nya kita bertanya...??? :  Apa yg *salah dengan Negeri ini* ..? Seandai-nya kita *duduk ditepi sungai* merenungi indahnya masa lalu di Nusantara. Negeri ini dahulu *Hijau kemuning* bagaikan Untaian Zamrud katulistiwa. Seandainya ada *Pekerja Asing* yg berlaga menjadi *PRIBUMI* lalu mengambil kekayaan *Alam Nusantara Bonus Demografi* yg belum tentu ada di Negeri, Asing maupun Aseng pastilah raga tertusuk sembilu. *Sembilan Pisau Kepala Naga Merah si Pengembara  mengembara .*

Saudara-Saudara KU : JAWABAN SEDERHANA  SANG AHLI HIKMAH :

" *CINTA TANAH AIR BAGIAN DARI IMAN, HANYA ORANG YG BER-IMAN, YG MEMILIKI HATI NURANI UNTUK BERBUAT YG TERBAIK KEPADA BANGSA DAN NEGARA DENGAN CARA " MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, MENJADIKAN ANAK PRIBUMI JADI TUAN DI NEGERI SENDIRI.*

BUNG ......!!!!!!
" Kita *sibuk rebut* tulang-belulang, sementara isi diambil Orang. Kita sibuk mencerdaskan Anak Orang sementara " *Anak Pribumi* disuruh menanggung *Utang.* Refleksi dalam deraian air mata *CINTA NKRI TAK ADA TARA.* Oleh. Habib IDRUS AL-HAMID. Yg jauh di mata tetapi dekat di Hati. Papua. 30/06/2018. 👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Selasa, 26 Juni 2018

" ROMANTIKA BUDAYA BANGSA DI PERSADA NUSANTARA "


              Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID

Saudara-saudara KU, Sebangsa dan Setanah Air. Budaya kita terkenal di manca Negara, untuk itu harus kita jaga. 

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yg memiliki budaya beraneka ragam, sementara yg dapat dipahami bahwa *Budaya* adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan di-miliki bersama oleh kelompok orang, dan di wariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Budaya sebagai mana dimaksud di atas, masih dapat kita rasakan dalam kehidupan *Kaum Komunal atau Feodal* baik itu tradisi dalam Ber-Agama, Politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian bangunan dan karya seni lainnya. Sistem pranata sosial yg selalu menunjukkan Budaya sebagai pijakan seperti " Kepatuhan terhadap" sebuah nilai yg mengakar dalam masyarakat sebagai budaya Absolut yg dipandang mengikat dalam kehidupan hingga sekarang.

Sebagai Misal, " Lebaran Ketupat, tradisi Kawin-mawin, adat pembangunan Rumah, dan Politik trah. Dalam masyarakat Komunal/Feodal, akar budaya seperti tersebut di atas merupakan bahagian dari realita kehidupan masa kini meskipun, belakangan ini mengalami Reproduksi atau Re-konstruksi Kebudayaan (bc.Irwan Abd.dkk ). Namun secara substansi Masi dipertahankan.

Sementara Romantika Budaya Kaum Hyperglobalist,   mengalami transformasi *Nilai* dalam segala bidang (bc. Globalisasi Nilai). hal ini mungkin dapat di pahami karena Kaum  Hyperglobalist memiliki slogan " TIME is Money..!!". Artinya globalisasi menghilangkan sekat ruang secara Global disebabkan karena kebutuhan Ekonomi dan Dinamika politik semakin kompleks. Kaum hyperglobalist menginginkan tatanan dunia baru yg tidak menjadikan budaya masa lalu sebagai habatan karena dianggap usang dan secara ekonomis tidak sangat menuntungkan.

 *ROMANTIKA BUDAYA BANGSA.*. Sejatinya terpelihara di Nusantara, sebagai karya Leluhur Bangsa, karena itu bahagian dari jati diri *BANGSA DAN NEGARA* Indonesia Raya, yg mahal harganya. Suda-kah kita sempatkan waktu untuk melihat, apakan bangunan yg berdiri kokoh di sekitar kita, merefleksikan Nilai budaya bangsa dimana pun kita berada. Mungkin kita harus Salut sama Pemda Bali yg mulai dari Bandara hingga Restoran dan hotel serta lain-nya melekat Nilai Budaya sebagai wujud *Kearifan Lokal*. Untuk itu seharusnya kita mulai menegaskan Akar nilai Budaya Bangsa dalam *Romantika Persada Nusantara* sampai hayat dikandung badan. Oleh Habib. IDRUS AL-HAMID Si Hitam Manis. Refleksi Rasa untuk Bangsa dan Negara. Papua. 29/06/2018)...

" PESTA RAKYAT, DAN MALAPETAKA PERADABAN DEMOKRASI "


                 Dr. Hb. IDRUA AL-HAMID

Dalam sejarah *Pesta Rakyat* di Negeri sejuta Panorama Indonesia tercinta, selalu dimaknai sebagai ajang mencari Calon Pemimpin terbaik dari sabang hingga merauke. Dekade awal demokrasi di Indonesia dikenal dengan sistim Presidensil tahun 1945 yg masa berlaku hingga ditetapkan UUDS pada tanggal 15 Agustus1950, yg menandai demokrasi Presidensial berubah menjadi Sistim Parlementer, dalam memilih Calon kepala Negara dan Kepala Daerah. (bc. Gagasan Syutan Syahrir). Yg menganggap sistim Presidensil adalah pola adopsi dari demokrasi ala  Eropa.

Sesungguh-nya Sistem Demokrasi Parlementer awal-nya sudah diterapkan oleh Kerajaan-kerajaan di Nusantara, hal ini, dikarenakan ada kerejaan yg daerah kekuasaan-nya sangat luas di Nusantara ini. Namun kelemahan sistim parlementer adalah kedudukan Eksekutif bergantung pada parlementer, mengakibatkan Kabinet sewaktu-waktu dapat dijatuhkan oleh Parlemen  dan Kabinet dapat dikendalikan oleh Parlemen jikalau mayoritas anggota-nya berasal dari Parleman.

Jika pada sistem presidensil dianggap bahwa, Presiden terlalu didewakan, kini untuk sistem demokrasi parlementer, peran presiden dianggap hanya sebatas simbol atau kepala negara saja, seluruh kekuasaan pemerintahan dijalankan oleh partai politik atau Parleman. Ini bahagian dari bukti sejarah lahirnya, *Dekrit Presiden* 5 juli 1959 yg dampak negatifnya, UUD 1945 tidak dilaksanakan secara murni dan konsekuen. UUD 1945 harusnya dijadikan dasar hukum konstitusional penyelenggaraan pemerintahan, namun pelaksanaannya hanya menjadi slogan-slogan kosong belaka.

Sistem demokrasi parlementer awalnya Memberi peluang Militer bebas terjun dalam dunia Politik, sehingga menjadi kekuatan politik yg di segani. Hal itu dapat dirasakan pada masa Orde Baru hingga sekarang ini. Apakah ini adalah bahagian dari malapetaka Peradaban,  ataukah perubahan Sistim Demokrasi sebagai bahagian dari ciri khas, negara-negara berkembang dewasa ini.

Namun demikian Masyarakat tdk terlalu paham kenginan Aktor Politik prahara Zamam, sehingga mereka diajak jual beli Suara karena itu cara kelangsungan hidup semata bagi Rakya Jelata dianggap hal yg lumrah, yg pada akhirnya Sang Pemilik kedaulatan merana terpanjang sepanjang masa.

( Saudara-Saudara KU, Perubahan sistem demokrasi parlementer, menjadi Demokrasi Pancasila yg bermaksud meneguhkan budaya leluhur bangsa pada akhirnya lahir Demokrasi Ala Reformasi yakni Sistim Multipartai, yg terkesan menggabungkan Sistem Presidensil dengan Parlementer yg pada akhirnya dirasakan sebagai "Malapetaka Peradaban Demokrasi"  bagi rakyat jelata karena bingung memilih yg mana. Oleh. HABIB. IDRUS AL-HAMID, Refleksi makna dalam dinamika Politik di Nusantara. Papua. 28/06/2018)...🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Senin, 25 Juni 2018

*STRATEGI MENANGKAL RADIKALISME MELALUI MEDIA TV DAN RADIO DI PTKIAN*

              Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID

Saudara-saudara KU, Saat-nya rasionalitas *Akademik* jangan terpenjara. Berdiri tegak demi kesatuan Bangsa dan Negara. Baca dengan olah rasa...

 *Globalisasi TIK* (bc.Teknoligi Informasi dan Komunikasi ) dewasa ini, menjadikan ruang publik semakin terkoneksi tanpa ada batasan antara satu dengan lain-nya. Masyarakat umum-nya tdk dapat terhindar dari sebarkan informasi yg *"Hoax* " yg ter-nyata lebih sadis dari " *Narkoba* " karena menusuk seluruh kalangan yg ber-perilaku Baik maupun Buruk.

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri,  yg sebaran-nya berada di hampir semua *Provinsi, kota dan Kabupaten* . Secara kelembagaan berfungsi sebagai Pusat penguatan Ilmu dan Pengetahuan, serta sumber informasi terkini yg diperoleh melalui Riset terpadu dan Agen Pembaharu dalam Masyarakat berdasarkan Program Pengabdian pada Masyarakat.

Seharus-nya PTKIN, harus kita yakini sangat strategis dalam menangkal *Faham-faham Radikalis berbasis Agama dan Budaya*. Hal ini, disebabkan karena mayoritas Tokoh dan Aktor Politik atau Pejabat Publik di Provinsi, kota dan Kabupaten sebahagian diantara-nya Alumni PTKIN, dan memiliki peran yg sangat Strategis, sehingga dapat di-jadikan *Lokomotif Islam Moderat* .

Apabila, penyampaian De-radikalisme, tidak sampai hingga *Rakyat Jelata*  jangan heran kalau *Radikalis* dianggap oleh masyarakat, jadi Komoditi semata. Seharus-nya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, yg pasti diyakini,  memiliki Alumni sampai *Akar Rumput*(Rakyat jelata) memiliki Media seperti Radio dan TV yg berisi kajian *"Konsep Moderasi Islam rahmatan lil'alamiin"*. Yg dapat di sebarkan oleh setiap Mahasiswa/i dan Alumni. kalau itu dapat dilakukan pasti " *Kaum Taqfirin"* atau Penghasud Kebencian terhadap sesama *Anak Negeri* akan terpenjara.

PTKIN, sesungguhnya adalah bahagian dari institusi Negara, harus di pastikan tidak boleh diam *1000* bahasa. Bersikap tegas bersama-sama  menghadapi Musuh yg berupaya memecah belah kesatuan Bangsa dan Negara serta menginjak kedaulatan Indonesia Raya.  Untuk itu pesan Kedamaian, bila disampaikan melalui *Radio atau TV live streaming MEDAOS* , insya Allah dapat meminimalisir sebaran informasi "Hoax" yg menyesatkan dan tidak beretika dalam kehidupan berbangsa dewasa ini.

( Saudara-Saudara KU, *Deklarasi* sudah kita lakukan, Komitmen Kebangsaan sudah kita tegaskan. Setiap Pimpinan PTKIN Pasti menguntai karya *Nyata* dalam menyiapkan Anak Negeri menjadi tuan di Negeri sendiri. Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri pasti, berkomitmen untuk menjaga keutuhan Bangsa dan Negara dengan meneguhkan " *MODERASI* dalam sikap    Keberagamaan dan Ke-indonesiaan yg utuh. Oleh. Habib IDRUS AL-HAMID. SI HITAM MANIS. Papua. 26/06/2018 )👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Sabtu, 23 Juni 2018

*FENOMENA TOLERANSI FATAMORGANA DALAM BAYANG-BAYANG MONARKI ABSOLUTE*



               Dr. Habib IDRUS AL-HAMID

Saudara-saudara KU, Saat-nya kita kembali kepada Nurani Ber-Bangsa dan Ber-Negara. Baca dan hayati Makna...

Dewasa ini, dimana-mana selalu kita dengar slogan atau Pidato tentang toleransi, yg memberikan kesan terdapat dinamika Masyarakat yg berkonstribusi terhadap "Sagragasi" Budaya dan Agama, yg pada akhirnya lahir ketegangan bersifat "Laten". Ini semua boleh bisa jadi aktornya adalah pelaku Ekonomi, Politik atau stratifikasi Sosial bangsawan tidak dermawan.

Toleransi berasal dari bahasa latin “tolerantia” yang berarti kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Secara etimologis istilah “tolerantia” dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa, terutama pada Revolusi Perancis saat menghadapi *Setuasi Sosial Radikal*. Hal itu terkait dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti Revolusi Perancis sehingga berdampak di seluruh Eropa.

Kalau *Revolusi* , jadi ukuran lahirnya Slogan toleransi maka boleh bisa jadi,  Konsep  *Revolusi Mental* lahir sebagai akibat dari, hilang-nya Rasa Kebebasan ber-ekspresi, Persamaan Hak sebagai warga Negara dan lahirnya Pertentangan antar sesama *ANAK BANGSA* yg berakibat pada tercabik-cabik rasa Persaudaraan (bc.Ke-Bhinnekaan dalam Sumpah Pemuda).

Istilah Toleransi juga melegitimasi adanya *Kaum* yg tidak siap menerima perubahan, hingga tidak toleran kepada perkembangan, karena mempertahankan tradisi-tradisi masa lalu, sebagai bahagian dari minimnya Sumber Daya Manusia yg Terampil dan siap untuk berubah.

Sementara itu, dalam Sejarah, dijumpai Fakta bahwa Masyarakat Metropolis dan Komunal memahami bahwa-sanya. *PERUBAHAN PERADABAN* selalu ditandai dengan ke-tidak siapan yg  melahirkan pertentangan, hingga pada akhir-nya dapat melahirkan, *kebijakan Revolusi Industri di Prancis dan atau Revolusi Mental di Indonesia Raya*

Kalau demikian adanya, maka Toleransi hanya dimaknai *Fatamorgana*, karena *deklarator* adalah Tokoh Masyarakat, Pelaku Ekonomi sebagai pemilik Modal dan Pemerintah atau pihak yg berkepentingan terhadap perubahan Peradaban. Sementara *Kesenjanga* dalam Masyarakat yg menguasai sumber Ekonomi Makro di MALL dan Masyarakat Pelaku Ekonomi Sub-Sider di pasar-pasar tradisional semakin tidak terbendung. Hal ini dapat berakibat lahirnya *asumsi* bahwa *Toleransi* adalah istilah yg digunakan untuk menekan Dinamika Revolusi Sosial yg dipandang Radikal.

( Saudara-saudara KU. Di Indonesia dari dahulu kala, tidak mengenal Istilah Toleransi, karena Yg diketahui dalam sejarah adalah istilah,  *Gotong-royong, Sumpah Pemuda, Bhinneka Tunggal Ika, Ekonomi Ke-Rakyatan dan Pendidikan Rakyat Semesta tanpa diskriminasi.*  Toleransi adalah istilah atau Makhluk yg terlahir dari bumi Eropa pada Abad  XVIII/18 di Prancis. sebagai akibat dari pertentangan antara Kaum Agamawan dan Pemerintahan monarki Absolut. Untuk itu, saatnya kita kembali kepada Tradisi leluhur bangsa yg mengedepankan kepentingan Bangsa dan Negara diatas kepentingan individu, Kelompok dan Golongan. Oleh : HABIB IDRUS AL HAMID SI Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua.Senin 25/06/2018)...🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽

Jumat, 22 Juni 2018

" 'ULAMA DAN POLITIK HILANG-NYA KHARISMATIS "


                 Dr. Habib IDRUS AL-HAMID

saudara-saudara KU,  Nusantara Negeri Karomah Se-juta 'Ulama, harus terjaga.. Baca dan renungi Makna..👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼

Ulama adalah Sosok Insan, yg dipandang oleh Masyarakat "Berwibawa", karena keluasan ilmu agama, selalu di jadikan tempat : bertanya, Tabaruq, dan Ma'unah. Karena Masyarakat melihat adanya Konsistensi antara Ucapan dan tindakan. Dahulu 'Ulama tidak menebar pesona dalam Prahara Mimbar penuh Hujatan, tetapi mereka selalu menciptakan Panorama "Silaturrahim" Sesama "ANAK BANGSA"  tanpa adanya perlakuan istimewa terhadap Kaum Bangsawan ataupun yg beda asal budaya, meskipun ada yg putih dan Hitam Manis, karena Gaharu Asli pasti sebab Hitam-nya.

'Ulama dalam dunia Politik selalu di jadikan sumber Fatwa, namun terkadang juga jadi sumber ketegangan. Seharusnya 'Ulama mampu menyeimbangkan kemaslahatan Dunia dan Akhirat, kalaupun harus berpolitik untuk kemaslahatan Ummat maka berpolitik-lah dengan santun dan bersahaja.

Dalam Masyarakat *Feodal Pos-modernis*, istilah yg sengaja saya kemukakan dalam menunjuk-kan sifat ketergantungan terhadap tokoh tertentu (bc. *Kultus Post Power syndrome*). Harusnya membuat 'Ulama lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bersikap, terhadap gejala Sosial Politik dewasa ini. Tidak menjadikan Fenomena sebagai wacana tanpa Tabayyun terlebih dahulu.

( SAUDARA-Saudara KU, ' Ulama di Nusantara, sangat dikenal sebagai 'Ulama Multi Talent, karena mampu menyiapkan *ANAK PRIBUMI* Sebagai tuan di Negeri sendiri. Pondok-pondok pesantren dijadikan Lokomotif Perubahan Peradaban, sehingga dapat melahirkan Calon 'Ulama yg Cendekiyah dan Cendekiyah yg 'Ulama, ini semua adalah *FAKTA BUKAN CERITA*. 'Ulama di Nusantara sesungguhnya Perisai Kesatuan Bangsa, karena *Kemerdekaan* adalah Rahmat Allah yg maha Kuasa. Untuk itu wajib dipelihara dan di jaga keutuhannya. Oleh. Habib.IDRUS AL HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara. Papua. 24/06/2018).👏🏽👏🏽👏🏽☝🏼☝🏼☝🏼🇮🇩🇮🇩🇮🇩

" NASIONALISME EUFORIA SEPAK BOLA PIALA DUNIA "


                Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID

Saudara-saudara KU.. Mampukah kita berbuat yg terbaik untuk Bangsa dan Negara, karena kalau bukan Kita siapa lagi, dan kalau bukan sekarang kapan lagi.

Tepat-nya tanggal 14 Juni 2018, pertandingan pertama dari Piala Dunia 2018 antara sang tuan rumah, Rusia, melawan Arab Saudi, dihelat di Luzhniki Stadium di Moscow. Acara yang diawali dengan pembukaan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Membawa nuansa baru bagi negara yg dulu dikenal nama "Uni soviet". Merupakan sebuah kebanggaan yg ditaburi rasa Nasionalisme tergambar pada acara Pembukaan Piala Dunia tahun 2018.

Sepak Bola, merupakan sarana mengasah rasa Nasionalisme, Kebangsaan dan meneguhkan jati diri sebagai Negara yg berdaulat yg diakui oleh Dunia Internasional. Coba kita bayangkan, Negara-negara yg luasan dan jumlah penduduk tidak seluas dan sebesar INDONESIA RAYA, dapat berkompetisi dalam laga sepak bola perebutan "Piala Dunia". Lalau Indonesia kapan dapat berlaga di Sepak bola "Piala Dunia".

Perebutan Piala Dunia (sepak bola), bagi Bangsa Indonesia adalah bahagian dari Euforia, yg berdampak pada shicologi pertarungan Peradaban Posmodernis, karena setiap insan, yg mendukung TIMNAS negara tertentu tidak dibayar sepersen-pun, malahan tidak merasa rugi mengeluarkan uang untuk membeli bendera Negara Favorit-Nya.

Andaikan Setiap kita, paham bahwa *Sepak Bola* mampu mengasah rasa Nasionalis, maka hampir di pastikan setiap kelurahan pasti ada lapangan *Sepak Bola*. Sebagai sarana refleksi dari bakat-bakat terpendam untuk selanjutnya dapat memperkuat Tim Nasional ( TIM GARUDA ). Andaikan kita sadar bahwa Sepak Bola dapat mengasah rasa Nasionalisme kesatuan bangsa maka pasti setiap  Lembaga Nwgara maupun Lembaga tinggi Negara Punya Lapangan *BOLA* seadanya, yg mampu melahirkan bibit unggul. Apa mungkin Negara harus memiliki cara menyiapkan Pemain Bola yg handal dan bermutu dalam ketrampilan mengolah si kulit bundar..???.

( Saudara KU, kalau Laaah kita mampu mengekspresikan rasa cinta dan takjub terhadap  TIMNAS NEGARA tertentu dalam "PIALA DUNIA" ( Sepak Bola ), kenapa untuk " *TIMNAS GARUDA DI DADA KU"* Hanya sebatas *Lagu*. Ada apakah dengan Negara ini... Kita sibuk memuji kehebatan Negara lain, namun sangat sedikit mau berpartisipasi mengasah rasa *"NASIONALISME KEBANGSAAN INDONESIA RAYA*" melalui Swpak Bola. Oleh. Habib IDRUS AL HAMID SI Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. 22/06/2018 )... 🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩 ☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽

Selasa, 19 Juni 2018

" ISLAM NUSANTARA DAN TOLERANSI BERAGAMA DI DUNIA "


Hb. IDRUS ALHAMID Bersama Bupati Kab. Jayapura. Pdt. Mathius Awaitauw "

Saudara-saudara KU, *PERBEDAAN* bukan mengharuskan kita harus  saling mengkafirkan, karena jikalau Allah berkehendak untuk semua *SAMA* apa yg susah Bagi-NYA. Penting untuk dibaca tulisan dibawa ini, ttp jangan Geleng-kepala biar tidak *GILA*.

 *Toleransi* adalah istilah yg melegitimasi Komunitas Masyarakat, saat merefleksikan kehidupan Ber-Bangsa dan Ber-Negara, dalam bingkai, saling menghargai satu dengan yg lain dan Menghayati persamaan Hak dan kewajiban, tanpa perbedaan antara, Kaya dan Miskin, Bangsawan dan Rakyat Jelata serta Konglomerat dan Kaum Melarat.

Indonesia, memiliki model Keberagamaan yg dipandang Unik, karena Agama dan budaya saling *Berkonstribusi* dan *Ber-Reprosuksi* karena itu, hanya di Indonesia, yg dikenal *Mayoritas penduduk Ber-Agama Islam*, dapat meng-implementasi-kan  hidup berdampingan dengan Kaum Minoritas dalam suasana Damai. Hanya di Indonesia yg Kaum Minoritas diberikan keleluasaan merayakan Hari-hari besar "Ke-Agama-an" dan Pemerintah mengeluarkan Kebijakan Libur Nasional. Itu Fakta bukan cerita dari *Zaman Siti Nurbaya hingga Zaman Siti Bahaya* saat ini.

Namun lain rasanya. Di Negara  Yg meng-kalim sebagai Pengusung *Demokrasi* terbaik di dunia, baik itu di *Amerika*  maupun di *Eropa* sekalipun, Apakah ada Fakta bahwa mereka merayakan hari-hari besar Keagamaan seperti halnya di Nusantara...??? dan adakah kebijakan Pemerintah Negara Pengusung Nilai Demokraai seperti, Amerika maupun Negara-negara Eropa menetapkan Liburan Nasional. Preeeet..

 *ISLAM NUSANTARA,* *Mampu* dan *Mapan* memberikan *Nuansa* dan *Suasana Toleransi* , karena tidak mempertentangkan *Hak-Hak Kaum Mayoritas* , baik itu dalam Komposisi Menduduki Posisi Menteri maupun Posisi Camat atau Lurah karena itu jabatan Strategis di NKRI. Lalu kenapa, Setiap *KEJAHATAN* selalu disalahkan, atau di Diskridit-kan Umat Islam sebagai Komunitas yg Mayoritas mendiami Nusantara dan hanya sedikit orang yg berbicara membela Mayoritas Pemilik kedaulatan "ISLAM NUSANTARA". Preeeet.

Apakah mungkin, dapat dipahami. *Toleransi* adalah Mahluk yg dijadikan Pintu masuk *lebelisasi, Teroris dan atau Radikalis* Karena mungkin itulah cara *Kaum Kolonialis Idiologi Trans-internasional* berkeinginan Menguasai Sumber-sumber Kapital Ekonomi yg Allah berikan kepada NKRI sebagai *Bonus Demografi*. Allah berfirman : " *Apa-bila Suatu Negeri, Rakyat-Nya Mayoritas Beriman, dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu,.  maka Allah akan Turunkan Nikmat dari Langit dan Bumi serta dari arah yg tidak diketahui.*

( Saudara-saudara KU, Sampaikan Kepada Kaum, yg selalu mengatakan Umat Islam Indonesia In-Toleransi ( *bc.Kaum pegiat MEDSOS*), sebaik-nya kalian tunjuk-kan kepada *Kami* apa Indikator-Nya tuduhan dimaksud. Karena kami tahu *Leluhur Pendiri Bangsa* mendidik Kami sebagi kaum Mayoritas di Nusantara agar berlaku Adil kepada Sesama " *ANAK NEGERI" INDONESIA RAYA*. Renungi kata-kata, dalam goresan tulisan saya di atas. Jangan pernah menari dengan gendang orang lain karena yg demikian adalah mereka yg *GILA : Tahta, Harta dan Wanita perhiasan Dunia. Oleh. Hb. IDRUS AL HAMID SI HITAM MANIS, SELALU ADA UNTUK MENGGELITIK NURANI ANAK BANGSA.* Papua.20/06/2018 )..

Senin, 18 Juni 2018

" BATIK PESONA BUDAYA NUSANTARA, TERPANJARA NESTAPA DI NEGERI SENDIRI "

                  Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID

Saudara-saudara KU, ini bukan cerita biasa, Baca resapi maksud-nya....

Dahulu, Nusantara adalah Wilayah yg banyak memiliki beraneka Kebudayaan. Kain adalah untaian bahan yg terbuat dari kapas serta bahan lain-nya, sangat mudah diperoleh dikala itu. Para pengrajin dalam *"PERADABAN"*  Majapahit dan Sriwijaya serta lainnya, mampu mengukir karya dalam balutan "Kain Tenun" bermotif Khas masing-masing Wilayah di Nusantara.

Saat itu, dunia hanya memiliki kain polos tanpa Motif dengan warna-warni, seperti hal-nya Eropa dan Timur Tengah, baju sang *Kaisar Romawi* dan Para Pembesar *Gurun Sahara* hanya bermotif Payet dan benang Emas yg tdk bernilai Kebudayaan tinggi, seperti halnya, Pembesar dan Raja-raja di Nusantara telah menggunakan Kain Tenun dengan motif khas   yg dikenal dengan Nama " *BATIK NUSANTARA".*

Batik sebagai bahagian dari refleksi Jati diri Indonesia Raya, awal-nya digunakan sebagai sarung dalam dialektika Kebudayaan tinggi oleh masyarakat, dan menjadi kebanggaan di Fase awal Kemerdekaan RI. Sampai-sampai setiap insan di Nusantara akan bangga kalau memiliki "BATIK" dari berbagai belahan di Nusantara.

Sepenggal tulisan saya di atas, mencoba mengusik nalar kita. Apakah di Zaman NOW, Batik khas Nusantara telah di pajang di ruang-ruang Publik, sebagai kebanggaan Produk Kebudayaan Tinggi Leluhur Bangsa...?  Masih-kah anak-anak sekolah menggunakan Batik Khas daerah masing-masing dimana sekolah berada...? Ataukah, atas dasar persamaan Persepsi makan dibuat Batik "TUTURI HANDAYANI" Yg tidak memiliki korelasi, refleksi Kebudayaan maha Karya "Batik Khas Nusantara".

 *"Pesan Buat Sang Penguasa"  :  Apa berat-nya membuat Kebijakan, agar "Batik Khas Nusantara" wajib di kenakan di sekolah dan di lembaga-lembaga Publik Negeri maupun swasta, sehingga "Batik" khas Daerah yg terbentang di Nusantara, dapat dipertahankan Orisinil-nya. Ataukah telah hilang kebanggaan terhadap "Karya Batik" Maha Dahsyat Leluhur Bangsa di Nusantara, karena dianggap " Kuno " tidak merefleksikan perkembangan Zaman. Kalau demikian, kenapa Bangsa Jepang mampu mempertahankan Pakaian * KIMONO * Meskipun di tengah-tengah perkembangan Zaman.

( Saudara-saudara KU, tulisan di atas sesungguhnya bukan cerita tetapi Fakta, yg mengkhawatirkan bahwa satu saat nanti setiap " *ANAK PRIBUMI* " di Nusantara sulit memahami mana "Batik Maha Karya" Leluhur Bangsa Indonesia Raya. Untuk itu mari kita tegas menjadikan "*BATIK NUSANTARA*" sebagai Pilar integritas Indonesia Raya di manapun kita berada. Oleh. *Habib IDRUS AL HAMID*, Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua, 19/06/2018 ).

Minggu, 17 Juni 2018

*" AL-QUR'AN TAK BERMAKNA DI GURUN SAHARA *'TETAPI* " AL-QUR'AN MENYALA DI BUMI NUSANTARA "**


                  Dr. Hb. IDRUS AL-HANID

Saudara-saudara KU... Kalau bukan kita Siapa lagi, Kalau bukan sekarang kapan lagi. Baca dan renungan dengan  *"Hati Nurani"*

Al-Qur'an adalah Kalamollah, yang diturunkan sebagai, *" PETUNJUK, PEMBEDA, PENYEMBU DAN RAHMAT BAGI ORANG BERIMAN"* Lihat : (Q.S AL-Baqarah 2:185 /QS AL-Baqarah 2:2 dan Q.S AL-Fusilat 41:44). Makna yg terkandung dalam bahtera Al-Qur'an dapat dipahami oleh ' *Ulil Al-Baab* baik dari Kalangan Akademik maupun praktisi Saintis, sangat fenomenal, arti-nya teks tidak berdiri tanpa Makna yg tersembunyi, sebagi bukti Mu'zijad Al-Qur'an tak ada tandingan-Nya.

 *" GURUN SAHARA "* Sebagai wilayah, dimana diturunkan Al-Qur'an dalam skenario *"SAMAWIYAH",* yg dalam Peradaban Bangsa Arab, umum-nya dipahami adalah Syair belaka dan hanya di Baca dan di Buku-kan Sebagai *"Literasi Ritual"* yg berkaitan dgn Problematika Sosial. ( bc. Turun, berdasarkan peristiwa, Masa Lampau, Masa kini dan akan datang ). Sehingga 'Kaum Gurun Sahara' menganggap  Al-Qur'an sebagai *" BACAAN YG BERULANG-Ulang "* sulit untuk di interpretasi dan di Kaji "Fenomena Makna Ayat yg terkandung di dalam-Nya oleh Kaum Gurun Sahara.

Berbeda dengan Al-Qur'an, yg dibawa oleh *Kaum Al-Yamani,*  *"PENGSARA"* Eksodus Gurun Sahara, yang oleh "Buya HAMKA" dikatakan, hadir di Nusantara pada Abad ke VII. disaat Kerajaan-kerajaan di Nusantara di penuhi oleh *"Mistisme Kebudayaan"* dan *Fenomena Alam* sebagai penyakit jiwa dalam Peradaban Nusantara. Al-Qur'an Mampu memberikan jawaban dan Solusi, dalam interpretasi Teks (bc. Tafsir Tematik ). Disaat Sang *Raja Sakit* , di saat *wilayah* terjangkit penyakit, di saat, *bencana Alam* melumpuhkan jiwa yang terpenjara. Maka Al-Qur'an hadir sebagai : (Syifa') Penawar Penyakit dan Penyejuk Jiwa yg terpenjara dalam Sukma Ibu Pertiwi.

 *"Al-Qur'an"* mulai merambah, memberikan Cahaya ke seluruh penjuru Nusantara, Para Raja-Raja Sriwijaya, Majapahit dan lainnya, SERTA Rakyat jelata, dapat tersenyum dalam balutan Cahaya Qur'ani, yg direfleksikan dalam bentuk *"Akulturasi Budaya dan Agama "* sebagai tonggak awal sejarah Perubahan Peradaban Nusantara. Kawin mawin antar Kerajaan tidak bersimbah darah, seperti hal-nya Kaum Mistisme Budaya. Rakyat Jelata, Mulai memakai Sarung dan tutup kepala, tak bertelanjang dada layak-nya Kaum Segragasi Budaya...

Saudara-saudara KU, Secercah tulisan di atas, sengaja saya ungkapkan sebagai rasa *"Cinta NKRI",* yg belakangan ini, bermunculan Idiologi *Trans-internasional* yg merangsek masuk dalam bilik-bilik Peradaban " *ISLAM NUSANTARA* " Dengan dalih  *" Pemurnian Agama "*. Dan Akan menjadi mala-petaka apabila, Para *" Habaib, Kiyai dan KAUM AKADEMIK" Diam 1000 bahasa".* Bung. Ini *Indonesia Raya* bukan *Gurun Sahara* . Identitas jati diri kita bukan Murahan. Kita-lah Bangsa yg akan menjadi Contoh Ummat Akhir Zaman (Sabda Ramalan Nubbuwah ).

( Sahabat *KU* jujur harus kita katakan bahwa Fakta-nya,  Bangsa-Bangsa takjub dengan "ISLAM NUSANTARA " yg Ramah dan bersahaja, merangkai Moderasi dalam Peradaban Tasyammuh tanpa *" PIAGAM JAKARTA ".* Itulah makna *" Al-Qur'an Menyala di Bumi Nusantara "*. Jangan hanya *Baca*, pahami Fenomena dibalik Makna dan peristiwa Alam Jagad Raya  dalam Cakrawala Indonesia Raya. Oleh. HABIB.IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara Di Timur Nusantara, selalu bersama. Papua, 18/06/2018 )....

Sabtu, 16 Juni 2018

" *SERIBU MAKNA SEJUTA PESONA, SERIBU CERITA SEJUTA PANORAMA "*


.              Dr. HABIB. IDRUS ALHAMID

Saudara-Saudara KU, Jangan sia-siakan, kesempatan yg Allah berikan. Jadi lah Manusia yg bermakna karena itu pesona ditengah-tengah Panorama.

Kata-Kata yg mungkin bermakna hayati makna-nya :

• Jangan pernah menganggap, mereka yg senyum kepada MU, meragukan kehebatan Mu, namun boleh bisa jadi mereka Takjub dan kagum atas ketabahan dan keuletan MU dalam mengarungi "Bahtera Kehidupan" yg tak kunjung pasti.

• Jangan pernah memutuskan silaturrahim, karena itu adalah pintu 'Asbab' "Engkau" di Kenal oleh Penduduk Langit dan Selalu di Kenang oleh Penduduk Bumi..

• Jangan pernah mengabaikan Kebiasaan Para leluhur bertegur sapa sesama "Anak Negeri". Karena kita adalah pewaris "PUSAKA INDONESIA RAYA" Tanah Tumpah Dara Zamrud katulistiwa.

° Jangan Pernah mewariskan tahta, karena itu hanya sementara,  bagaikan menggenggam air dalam Belanga. Maka wariskan-lah "Karya Nyata Se Juta Pesona di Nusantara sejuta Panorama terbentang luas dalam Cakrawala...

( Saudara-saudara KU, Nusantara adalah surga kecil yg jatuh ke Bumi, Rakyat-nya ramah dalam gugusan pulau yg mempesona dalam panorama yg selalu seirama dari Sabang hingga Merauke haruslah terjaga dan dipelihara.  Oleh. Habib. IDRUS AL HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Jkt. 16/6/2018)...

Jumat, 15 Juni 2018

CAHAYA DALAM KESUNYIAN, RAMADHAN KAMPUNG HALAMAN "*

                Dr. Habib. IDRUS ALHAMID

Saudara-saudara KU, Harap dibaca, Renungi Makna mutiara Hitam Mahal Harga-Nya.👏🏽👏🏽👏🏽🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Saat berakhirnya Ramadhan. Di Sudut *Surau* Marbot *Samsul,* duduk termenung dalam kehampaan sejuknya, udara pagi menjelang fajar, merefleksikan makna kehidupan dalam renungan "Ramadhan" yg telah berganti hari ke dua Syawal.

 *"Marbot Samsul"* , merasa ada suasana yg berbeda saat Ramadhan, setiap Insan berdatangan  memenuhi *SURAU* saat *Subuh* menjelang, Surau-pun penuh berdesakan, hingga suasana ke-akraban dan silaturrahim terasa hangat dan menyenangkan bagaikan, bahtera hati Luas dan Lapang tak dapat di-lukiskan.

Namun suasana jadi lain setelah memasuki hari ke dua Bulan Syawal, *SURAU* sepi dari kunjungan para insan pencari *TUHAN*, Sang Marbot bingung menatap masa depan, dalam hati-Nya bertanya, Apakah ini yg dikatakan, "Ramadhan" pergi *tak* meninggalkan Kesan, layak-nya Musim "TOMAT" ( setelahTobat Kumat lagi ). Sangat Marbot, meneteskan *Air Mata*saat Azan di kumandangkan, karena tersisa lima Insan Pencari *"TUHAN".*yg konsisten dalam "tasawuf Komunal". Ooooo *Dunia* Kamu Manis tak terbilang, janji palsu mulai dibentangkan.

Sepenggal cerita yg saya tulis di atas, sebagai refleksi kenyataan, bahwa "Ramadhan" mungkin merupakan sarana " Pencitraan " yg beri kesan kepada setiap Insan 'seakan-akan' telah berubah menjadi " *Muttaqien karbitan"* layaknya lagu " *BERKELANA* " Mencari sesuatu, meskipun ke hujung dunia, yg tak akan habis-habis kalau-lah Gunung di daki dan lautan diseberangi, yg menyakitkan hati, Kaum QOBIL.

( Saudara-saudara KU. Apakah hidup se-layak-nya, mengukir nilai diatasi *Batu* kekal Abadi, menghujam ke-akar bumi. Karena mengukir Nilai diatas laut hanya Orang gila tanpa Peradaban *"Yaumil Hikmah"* bagaikan hikayat masa lampau. Ramadhan, Mengukir Makna dalam Peradaban "SURAU" penyejuk dada yang harus diperhatikan, karena itu Budaya Leluhur "BANGSA DAN NEGARA" agar *Sang.Marbot Samsul* tersenyum dalam suasana batin kokoh-nya " *Silaturrahim sesama ANAK BANGSA DAN NEGARA INDONESIA RAYA"*. Oleh. Habib IDRUS ALHAMID Di Timur Nusantara Merindukan silaturrahim yg bermakna. Papua. 16/06/2018 )..👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽

Rabu, 13 Juni 2018

*" DEKLARASI NASIONALISME DI PTKIN HANYA PENCITRAAN SEMATA "*


Dr. Habib. IDRUS AL HAMID & PEJUANG AL- BANTANI SERTA AL-JEMBERI...

Saudara-saudara KU, Kita tahu Indonesia Raya jadi Incaran Dunia. *PTKIN* Harus tampil sebagai *PILAR PERADABAN INDONESIA TANAH AIR BETA* . Munculkan gagasan "Deradikalisasi" di PTKIN SE INDONESIA" Kalau TDK sekarang Kapan lagi...

Beberapa saat lalu, Publik Indonesia dikejutkan dengan temuan, *"PERAKIT BOM"* ataupun apa nama-nya adalah Mahasiswa, yg akhirnya melebelkan Kampus sebagai institusi tumbuh dan menjamur " Idiologi Radikal ". Disaat bersamaan semua orang mulai "Latta" menyuarakan "Deradikalisasi di dunia Akademik". Kita lalu bertanya-tanya.. Ada Apa dengan Negeri Ini, Koooo *Kaum Cerdik pandai* dijadikan sasaran Operasi Intelejen... !!!

NASIONALISME PTKIN, Disuarakan disaat "DEKLARASI ACEH ". Saat Acara Pembukaan "PIONIR", Seluruh Pimpinan PTKIN Menyatakan Sikap, " Meneguhkan Integritas Kebangsaan dan menegaskan  NASIONALISME (bc. Lahirnya Kaum : PBNU atau Pancasila, Ke-Bhinnekaan, NKRI DAN UUD 1945 ) DI KAMPUS PTKIN SE-INDONESIA.

Sangat Ironis dan menusuk Sukma di "Dada dan Jiwa", Para Pimpinan PTKIN, saat meng-implementasi apa yg di Deklarasi di PIONIR ACEH dan AICIS Di BSD Serpong.  Semua beramai-ramai menghujat Para Rektor, Contoh Kongkrit Kasus " CADAR " yg terjadi pada beberapa *KAMPUS PTKIN* , yg atas nama Negara dan HAM, Para Pimpinan PTKIN ditekan untuk mengikuti suara ' LSM DAN ORMAS" yg Fakta-nya mereka sangat Radikal dan Ekslusif.. Lalu "APA YG SALAH DGN NEGERI INI ".

Di Negara Berkembang, keinginan Kampus meneguhkan *'Integritas Kebangsaan'* di Dukung oleh seluruh Elemen Bangsa. Karena jika tidak, maka " *Hancur* " Laaah Realitas Peradaban Masa Depan *ANAK NEGERI*. Untuk itu, yg *memimpin Kampus* seharus-nya di Pilih Orang-orang yg tangguh dan Loyal terhadap Bangsa, Negara dan Agama. Bukan Kaum " KURSI-OLOGI " atau Idiologi Kekuasaan ( kata " *Prof.Miftah.Toha.dkk* '). Dan itu sangat berbahaya dalam Paradigma Ber-Bangsa dan Ber-negara, karena *KAMPUS* Sumber Inspirasi Masadepan...  "Aduuuuh Pemimpin Maha DEWA ",

Sepintas, apa yang saya kemukakan di atas adalah Fakta kekinian, yg membuat para Pimpinan *PTKIN GELISA* Dalam Ketegasan. Apakah kita biarkan semua ini bahagian dari Apriori Nestapa "AKADEMIK".. Atau-kah segerah ada " *PMA Atau PER-Dirjen* " sebagai bagian dari keseriusan dalam  Implementasi " " *DEKLARASI PIONIR DAN AICIS "* Kemarin... Atau atas Nama *Otonomi KAMPUS* Para Pimpinan PTKIN dapat Memberhentikan Mahasiswa yg di indikasi " RADIKALISME " dengan tidak terhormat... Kalau TDK demi-kian maka, "Apa Yang Salah dengan NEGERI INI...

(Saudara KU, Kenapa kita tidak pahami bahwa,  PTKIN Adalah Lokomotif yg Produktif dalam Melawan " *RADIKALISME SIMBOLIS* ". Kalau sudah demikian, Ayoooo saat-nya kita berbuat yg terbaik untuk Bangsa, Negara dan Agama. Jangan pernah kita menari dgn irama Musik yg berbauh "Fitnah dan Pertentangan" sesama ANAK PRIBUMI.. Oleh.Habub.IDRUS AL HAMID. Dalam Cakrawala   Birahi Cinta NKRI Tak ada Tara. Papua. 13)06/2918).… 👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼🇮🇩 🇮🇩🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩..

Senin, 11 Juni 2018

" RAMADHAN KAUM FEODAL DAN BUDAYA KAUM BORJUIS DI NUSANTARA "


                 Dr. Hb.IDRUS AL HAMID

Saudara-saudara KU, Kalau Cinta INDONESIA, Baca dan Renungi tulisan berikut ini..👏🏽👏🏽👏🏽🇮🇩🇮🇩

Budaya Masyarakat Indonesia dalam mengisi hari-hari di bulan Ramadhan, adalah menyajikan Ta'jil yg beraneka ragam dalam suasana " *Kebersamaan, Kekerabatan tanpa Klas antara Rakyat dan Bangsawan* ". Dalam budaya Kaum Feodal hidup berbagi adalah Fakta yg ada di Nusantara, yg selalu terpelihara dalam Tapak Peradaban Leluhur Bangsa Indonesia Raya

 Ramadhan bagi Kaum Borjuis, sebagai *Wahana* mengeruk Keuntungan sebesar-besarnya dalam tradisi Niaga. Mereka se-enaknya memainkan harga menusuk dada Kaum Feodal yg mayoritas tidak berdaya. Kaum Borjuis dengan kekuatan Modal Ekonomi mampu merombak tatanan Feodal yg dikuasai oleh Kaum Agamawan dan Bangsawan. sehingga sistim ekonomi Feodal bergantung terhadap Kaum Borjuis.

Fakta sebagaimana tersebut di atas, seharus-nya memberikan isyarat kepada kita untuk kembali merajut Sistim Ekonomi Feodal ( bc.Ekonomi Kerakyatan ). Dahulu kita bangga menggunakan Produk dalam Negeri, dahulu kita bangga makan makanan Khas Nusantara Made ini Sendiri. Di Zaman NOW ini, Kaum Borjuis menghadirkan Model Pasar Online, yg menghadirkan produk-produk instan, yg  kemasannya dibuat Indah dan menawan, Namun nyatanya Mahal susah dijangkau rakyat melata dan makanannya instan serta berdampak pada kesehatan.

Ekonomi Kaum Feodal, sesungguhnya tumbuh dari hati nurani, bahan " PAKAN "(Pakaian dan Makanan) Orisinil Nusantara, harganya murah dan terjangkau. Namun apakah kita minat  ataukah kita senang Makanan instan dan pakaian serba Made in "KOREA dan Cina" yg model-nya tdk Refresentasi budaya Nusantara... Ooooo NEGERI SETENGAH DEWA..

( Dahulu Kita terlahir dibungkus dengan kain sarung Alam persada. dahulu kita Makan, Singkong dan Jagung rebus belaka. Sehingga kita terbebas dari Penyakit yg merusak hati, merusak tulang serta merusak sendi-sendi yg berakibat pada peradangan otak yg akhirnya lahir generasi rendah mutu Akademik-nya.  *Jangan biarkan ini terus terjadi* . 👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽😭😭😫😫😫😫😭😭.
Ramadhan refleksi Cinta sesama ANAK NEGERI di Nusantara. Oleh Habib IDRUS AL HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara, selalu berbicara. Papua. 11/06/2018).

Sabtu, 09 Juni 2018

NASIONALISME "inlander" BAGIAN DARI SLOGAN * " AGAMA KU 'adalah' JATI DIRI, BUDAYA KU 'adalah' HARGA DIRI SERTA NKRI KU HARGA MATI "

               Dr.Habib.IDRUS AL HAMID

Saudara-saudara KU, Ini tulisan dari Hati Nurani, Baca dan Renungi hingga Akhir nanti...🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽☝🏼☝🏼☝🏼

Awal Kemerdekaan, BPUPKI, sibuk menetapkan dasar-dasar NKRI. Yg pada akhirnya lahir Kelompok Nasionalis Kebangsaan Religius dan Nasionalis Kebangsaan Sekuler. Kedua klp tersebut berupaya untuk meletakkan dasar negara dengan argumentasi yg beragam pada bahagian( " Negara Berdasar dan Syarat Presiden Indonesia ").

Nasionalis Kebangsaan Religius dan Nasionalis Kebangsaan Sekuler Berdebat perihal berikut ini :

1. Dasar negara adalah : Ketuhanan, dgn kewajiban menjalankan Syari'at Islam bg pemeluk-pemeluk-nya.  Di tolak oleh Kaum sekuler, dgn alasan Menjaga Suasana Kebatinan dalam masyarakat "Majemuk". Akhirnya Hukum Belanda yg Dipake, lalu kita terjebak dengan Nasionalisme bayaran ( Keadilan Tek pernah ada dan Kemakmuran hanya sementara, sehingga Tahta di rebut Sang- Penjaja ).

2. Presiden Indonesia adalah : Orang Indonesia  Asli dan Beragama Islam. Yg disebut oleh Belanda " " *inlander atau PRIBUMI"* bukan orang Eropa atau Orang Timur Asing.. "inlander" juga oleh Belanda di bagi dua, yg beragama Islam dan beragama lain, dengan perlakuan juga di bedakan " *Ada yg Sekolah bersama Anak Belanda dan diberi upah besar serta ada yg Sekolah bersama Anak Arabian di langgar dan Surau" dan disaat kerja diberi Upah murah.*

Disaat Tokoh Muslim berupaya mempertahankan  Presiden adalah " *Inlander" (PRIBUMI), beragama Islam karena perjuangan Kemerdekaan dilakukan oleh para Tokoh-tokoh Islam* yg dengan tegas menolak ajakan jadi Antek Belanda. Namun oleh Sukarno di coret tgl 18 Agustus 1945, dgn asumsi " tanpa disebut pasti Islam mayoritas akan memimpin Indonesia ". Saat ini tdk ada lagi jaminan, kalau Ummat Islam masih Firqah-Firqah...

Saudara KU.....; Setidak-tidaknya, "Goresan" tulisan Saya di atas, dapat mengetuk Pintu hati masing-masing "Anak Negeri " pemilik kedaulatan Saat ini.  Bahwa kita harus sadari UUD 1945 telah mengalami "Amandemen" beberapa kali dan terakhir  atas usul Prof. Sahetapy dari PDIP, maka kata " Orang Indonesia Asli " sebagai syarat Presiden di ganti menjadi *" Peresiden Indonesia adalah Warga Negara sejak Kelahirannya, dan tidak pernah menjadi warga negara lain, atas permintaan atau atas kemauannya sendiri* ". Dengan demikian maka, siapapun "inlander" di Republik ini Bisa jadi Presiden NKRI, apapun ideologi yg tertanam dalam diri-nya..

Saudara Ku...: Karena konstitusi kita ( Amandemen terakhir ) tidak memberikan jaminan utk "inlander" atau PRIBUMI yg beragama Islam untuk memimpin " *Negara Kesatuan Republik Indoneaia"* maka, Cendikiyah dan Kaum Akademis Muslim, saat-nya mampu dan dapat menegaskan kepada Masyarakat untuk bersatu Padu memilih Partai-partai Islam dan menyiapkan Calon Presiden dari " inlander" Pribumi Muslim untuk jadi Presiden di NKRI. Kalau tidak demikian Insya-Allah yg akan pimpin NKRI Adalah "inlander" Eropa atau Timur Asing, yg sekarang sudah berubah jadi "NAGA MERAH" Yg menakutkan "Anak Negeri " yg sedang mengalami "Kegalauan Identitas"..

( Saudara-saudara KU, Cintai-lah Negeri Ini, karena disinilah kita  *"di Lahirkan dan kita di Besarkan "* kita di ajari, berkarya untuk semuanya, Bergotong-royong, meneguhkan budaya leluhur Bangsa. Mengejar *"Masa Depan"* yg tegas dalam integritas Orisinil *ANAK NEGERI INDONESIA RAYA* . Oleh Habib IDRUS AL HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara Selalu Terjaga. Papua. 10)06/2018 )...☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩

Jumat, 08 Juni 2018

" *KEPEDULIAN ANAK NEGERI TERHADAP BANGSA SENDIRI* "


          Dr. Hb. IDRUS ALHAMID,S.AgM.Si

Saudara-saudara KU,... Hari ini kalau ada yg tidak *"PEDULI"* Terhadap Bangsa Sendiri, maka sesungguh-nya Jiwa-Nya sedang sakit. Baca tulisan di bawah ini mudah-mudahan, sadar "Diri" sendiri....

Apakah setiap orang di Negeri ini, telah " kehilangan " Hati Nurani, Yg oleh Ismail Marzuki dalam penggalan syair  lagu dikatakan " *TANAH AIR KU INDONESIA, NEGERI ELOK YG KU PUJA, TANAH TUMPAH DARA KU YG MULIA, SELALU DI KENANG SEPANJANG MASA, BERJEJER PULAU-PULAU BAGAI RAJA KELANA.*

Disaat setiap orang berteriak, membela kepentingan Bangsa dan Negara, (bc.Keadilan Sosial bgt Seluruh Rakyat Indonesia) lalu mereka di Penjara. Sementara Anak Negeri yg memperjuangkan dominasi Sang Pemilik Modal dapat *"PIALA"..* Inilah yg pantas disebut " *NEGERI SETENGAH DEWA "..*

" *KEPEDULIAN* " Adalah Panggalan kata, yg menggambarkan setiap Manusia, apa peduli terhadap kenyataan, Bernegara ' Bahwa kita sedang menyiapkan' *Kejayaan atau Kehancuran *"ANAK PRIBUMI"** di Negeri sendiri. Karena kehancuran sebuah bangsa dikarenakan, Kaum " *Cerdik, Pandai* " diam 1000 bahasa sebab telah terpenjara oleh " *Gemilang-nya Tahta* " lalu membiarkan Pekerja " *Asing"* menginjak kedaulatan Ekonomi dan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Bangsa yg mampu berdiri Kokoh, adalah bangsa yg antara " *Umarah, Ulama dan Rakyat jelata ",* bergandengan tangan menyongsong masa depan Gemilang yg caranya tidak bisa kita adopsi " *Eropa, Amerika dan Timur Tengah "..* Masihkah kita percaya bahwa kita bangsa Besar, jadi jangan mau di Kerdil-kan. Kita terhormat kalau saling menghormati sesama kita sendiri bukan saling meng-hujat atau meng-gunting dalam lipatan.. Sadis Aaamat kalau gitoooo..

( Bung... Bangsa kita bukan Bangsa Kuli, kita berjuang dengan tetesan keringat, darah dan air mata. Lalu kenapa kita terkesan jadi Tamu di " Negeri Sendiri "... Apakah itu yg dinamakan " Hilang-nya Sensitivitas Kepedulian terhadap Bangsa-Nya sendiri " atau lebih baik " DIAM " dari-pada dipenjara karena "Protes Ekspresi Rasa Keadilan " terhadap Anak Pribumi.. Ingat Saudara-saudara KU, kita sedang menanam untuk Anak dan Cucu kita sendiri, maka tanamlah Massa Depan yg Gemilang sebagai Ekspresi Kepedulian untuk MU. "ANAK NEGERI " Tiada Tara sampai kapan-pun adanya. *Oleh Habib IDRUS AL HAMID. Cendikiyah INTIM Dalam Kecemasan bayang-bayang Kepedulian Sesama Anak Pribumi".* ( Papua. 09/06/2018 ).. ACI : AKU CINTA INDONESIA.. " Bangat" itu Pasti bukan janji.. 🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩☝🏼☝🏼☝🏼☝🏼👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽

" HARUS-KAH KITA MELAHIRKAN RUMUSAN BAKU MODERASI ISLAM NUSANTARA "



Batasan Moderat Dan Ekstrimis. dalam realita Sosial yg saat ini , dinamis dan sangat mengemuka dalam implementasi Nilai agama yg berbeda-beda pada kehidupan Masyarakat yg Hitrogen, telah sampai pada batasan ekspresi "Sektarian Segragasi budaya" trans-internasional yg menggelisakan kita.

Konsep, Tasammuh, Tawasud, Tawajud Dan 'adalah... Dalam Padana Nilai "ISLAM"  selalu dipahami dalam setuasi yg berbeda-beda, Sehingga setiap Pakar berupaya meng-adopsi "Konsep Nilai Agama " dalam realita Sosial Keberagamaan, yang terkadang kontra Produk, dengan Nilai yg tumbuh dan berkembang Di " NUSANTARA " yg Masyarakat-Nya terkenal Humanis dan Agamis.

Apakah...  ISLAM NUSANTARA, lahir sebagai jawaban atas sikap yg berbeda-beda dalam implementasi Nilai Agama Secara Universal, dalam kehidupan masyarakat "Hitrogen" ???. Kalau demikian adanya. Apakah,,, seharus-nya para Akademisi dimungkinkan dapat melahirkan "RUMUSAN MODERASI ISLAM NUSANTARA" sebagai Konsep Nilai Keberagamaan Orisinil Nusantara...??? Atau-kah atas Nama, kebebasan ber-ekspresi setiap orang berhak mengemukakan padanan Nilai Agama yg menggelisaka masyarakat Indonesia Pemilik Kedaulatan Negara dalam ber-agama.

Moderat, Toleransi, dan atau Keadilan sebagai wujud dari sikap Ber-bangsa, Ber-negara dan Ber-agama, merupakan fenomena kekinian yg sangat penting dan mendasar untuk direnungi dalam upaya menciptakan " Konsep Perdamaian " dalam Ke-Bhinekaan, sebagai bahagian dari tradisi Orisinil Leluhur INDONESIA RAYA.

Saudara-saudara KU, dengan tidak bermaksud menggurui siapa-siapa,  mari kita berijitihad untuk sekiranya dapat "Merumuskan Konsep " baku Moderasi Islam Nusantara sebagai jawaban atas fenomena kegelisaan kehidupan ber-bangsa dan ber-negara, Atau-kah kita mengemukakan Slogan " Anjing menggonggong, Kafilah Jalan setengah lari " .. Oleh. Habib.IDRUS AL HAMID SI HITAM MANIS PELIPUR LARA DI TIMUR NUSANTARA. ( Papua. 08/06/2018 )..👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩✌🏼✌🏼✌🏼✌🏼

Kamis, 07 Juni 2018

" SEJATI-NYA NASIONALISME KAUM ABANGAN DAN NASIONALIS KAUM SANTRI "

         DR. IDRUS. AL HAMID. S.Ag. M.Si

Saudara-saudara KU, Ini sangat Penting baca dan renungkan Makna.... Jangan lupa Baca Bissmillah..

Kaum abangan dewasa ini sering digunakan untuk menyebut masyarakat yang rela memeluk Islam, namun tetap bertahan membiarkan dirinya larut kedalam kepercayaan dan ritus-ritus lama yang seudah berurat akar sampai ratusan tahun. Secara etimologis, kata abangan berasalal dari bahas Jaba abang yang berarti merah. Seperti merahnya kulit anak baru lahir atau jabang bayi. Kata abangan kemudian mengandung makna konotatif, yaitu orang-orang yang masih ‘baru’ dalam keislamannya.. Mereka ini yang dikenal sebagai Islam nominal atau lebih popular dikalangan santri dengan istilah golongan abangan.

Lahirnya golongan abangan, khususnya di Jawa tidak dapat dipisahkan dari struktur pengislaman di Jawa. Hal tersebut berhubungan dengan kebudayaan Jawa sebagai asal-usul lingkungan bagi golongan-golongan tersebut. Didaerah-daerah Pantai Utara, tempat kebudayaan Hindu kurang berpengaruh, Islam lebih kuat dan mampu merembes dalam kehidupan social paguyuban santri. Sebaliknya, ditempat-tempat dimana agama Hindu masih kuat berpengaruh, Islam cenderung mencari kompromi. Hal tersebut berarti bahwa, Islam sadar untuk menciptakan sintesis dengan faktor-faktor budayawi lain yang telah datang lebih dulu. Hasilnya berupa Islam sinkretik sebagai pandangan dunia abangan.

Seorang ulama berdarah Majapahit, yang lahir di Kadipaten Tuban, yang sangat dikenal dikalangan masyarakat Jawa yaitu Sunan Kalijaga, mati-matian membendung gerakan militansi Islam. Beliau seringkali mengingatkan, bahwasanya membangun akhlaq lebih penting daripada mendirikan sebuah Negara Islam.

Sunan Kalijaga, memahami bahwa guna mengokohkan persatukan maka " Kaum Santri dan Abang, harus di arahkan untuk tidak mempertentangkan persoalan Wilayah atau Negara (bc. nasionalisme Mera vs Nasionalis Hijau ). Konsep Akhlaq yg diajarkan oleh Sang SUNAN, seperti lahirnya Budaya Gotong-royong, Makan bersama dalam acara 1 Sura dll. Sangat berdampak terhadap lahirnya "NASIONALISME" Nusantara, yg terpadu antara Konsep Kaum Abangan dan Kaum Santri.

Kaum Kapitalis Asing dan Aseng, sangat khawatir kalau di zaman ini, lahir Sunan-Sunan Nusantara yg mampu memadukan Nasionalis Abangan dan Nasionalis Santri. Karena bersatu-nya "ABANG DAN SANTRI " akan melahirkan Nasionalis Sejati.. yg menjadi pertanyaan : " SAAT INI POSISI PTKIN SEPERTI APA "..

PTKIN seharusnya menjadi Pintu Gerbang " MODERASI WASYATHIYAH ". Artinya Mampu melahirkan sosok Nasionalis Sejati yg memahami Simbol-Simbol Peradaban Nusantara dari Zaman Majapahit  hingga Jaman Kopy " PAHIT SIANIDA " saat ini.

( Saudara-saudara, KU. Mari kita teropong Sejarah " NASIONALIS NUSANTARA SEJATI ".. Karena PTKIN menurut saya akan mampu mengukir sejarah " Terpadu-nya Nasionalisme Abangan dengan Nasionalisme Santri. Oleh. Habib. IDRUS AL HAMID. Si Hitam Manis Penjaga Gawang Timur Nusantara. Papua. 08/06/2018 )...

" Ummyi - OOO IBU KU "

" Senyum MU, Indah Dan Menawan "

Engkau adalah Malaikat Tak Bersayap, KAU berikan yg terbaik disaat kami minta, meskipun di 2/3 Malam Engkau terjaga.

Engkau, Mengandung kami tanpa " Keluh - Kesa " disaat kami bersemayam dalam perut Mu, menunggu ketentuan waktu yg ditentukan oleh Allah, Namun Engkau Pasrah dalam senyuman duka lara..

Ummyi.. Ooooh IBU KU... Engkau adalah " Dewi " yg menyelimuti jiwa dan raga KAMI, disaat Ganas-nya Peradaban Menusuk bilik Jantung KU, terasa seperti lolongan Anjing di kegelapan malam, namun Engkau tak Peduli dan tidak melepas dekapan "Bara Asmara" Kasih Sayang yg dititip oleh Allah.

Yaaaa Allah.. Andaikan Engkau Berikan Kepada KU, Hanya satu Permintaan. Maka yg Aku minta adalah, tempatkan " Ummyi " {Ibu Ku } di "Jannatul Firdaus", karena DIA Layak untuk mendapatkan-Nya.. Oleh.Habib.IDRUS AL HAMID. " GORESAN KETULUSAN CINTA SEORANG ANAK " Dalam  Pengembaraan Sejati. 07/06/2018...👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼

Senin, 04 Juni 2018

RENUNGAN HATI YANG MERANA " IBU PERTIWI DI-PERKOSA DAN DI TELANJANGI " SAKIT-NYA DI SINI.

                  Dr. Hb. IDRUS AL HAMID.

Saudara-saudara KU. Nusantara menjadi incaran Dunia. Karena IBU PERTIWI, Seksi abadi  sepanjang Peradaban. Baca sampai Akhir pasti paham....

Nusantara yg indah tak terbayangkan, saat Engkau muda, diperebutkan oleh Raja-Raja dari selat MALAKA sampai Selat NERAKA (bc. Timur Nusantara) .

Wahaii Nusantara KU,  Engkau Jelita pujaan hati, setiap Insan di Persada ini.

Wahaii NUSANTARA KU,  Engkau Montok berisikan, emas Permata yg disebut Zambrut Katulistiwa,  Sehingga yg Naksir Engkau adalah Manusia Se-anteo Dunia.

Namun yg pasti.  Zaman selalu berganti,  Usia semakin berarti. Nusantara berubah MEMJADI "IBU PERTIWI". yang memelihara "HARGA DIRI", dari upaya Cengkraman " Naga Merah" yg birahi-nya Ingin Menelanjaingi Dan Memperkosa "IBU PERTIWI ".. Sehingga Teriakan "IBU PERTIWI" selalu menggelepar Di angkasa INDONESIA RAYA, memanggil ANAK SENDIRI bukan ANAK TIRI Yang tak jelas Nasab History .

Tulisan di atas, Sebagai Refleksi Rasa, Sakit sembilu "IBU PERTIWI", merintih memyaksikan anak-nya (bc. Anak PRIBUMI)  di tindas dan di intimidasi di Negeri Sendiri. Seluruh harta Kekayaan di Kuras habis sampai ke tepi (bc. Timur Nusantara), yg diberikan Kepada Anak Pribumi hanyalah Tulang belulang dan Sampah Peradaban yang sesungguh-nya menyakitkan "Hati IBU PERTIWI" yg merintih setengah MATI.

Saudara-saudara KU. Berjuang untuk mengjaga dan melihara kehormatan dan harga diri "IBU PERTIWI" bukan laaah membiarkan Seluruh Aset Dan Perhiasan "IBU PERTIWI" di Rampok dan di eksploitasi oleh Anak Tiri  atau anak 'Si Naga Merah' tak jelas Nasab History yg selalu silih berganti menginjak-injak kedaulatan "Ekonomi Anak Pribumi"..

Saudara-saudara KU, Jujur harus kita Katakan bahwa menyedih-kan, memalu-kan dan memilu-kan apabila Pada Akhir-nya kita baru ketahui Bahwa " Sang IBU PERTIWI " Telah ditelanjangi dan di Perkosa Silih berganti di Negeri SENDIRI. Amboooiii hancur-nya hati KU ini....

( Bung... Jangan pernah mengatakan Engkau "CINTA IBU PERTIWI" apabila masih ragu untuk berbuat demi kejayaan "ANAK PRIBUMI" di Nusantara  ini. segrah kita Siapkan " GENERASI GEMILANG MASSA DEPAN" yang tidak kehilangan jati diri, serta berjuang untuk kejayaan Negeri Sendiri. Pasti IBU PERTIWI bangga terhadap Anak Sendiri. Oleh.  Habib. IDRUS Al Hamid. SI Hitam MANIS Selalu menggoda. Papua.  05/06/2018)

" GAGASAN MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA OLEH LELUHUR NKRI APA MAKNA-NYA "


Saudara-Saudara KU,  Marilah Berbuat untuk "Kesatuan Bangsa dan Negara" karena itu haraoan leluhur Kita. Baca dan renungi makna dalam kalimat pasti bercahaya.

Dalam UUD 1945, yang umum-nya  kita pahami sebagai pedoman berbangsa dan bernegara, sangat indah  untaian kalimat pasal demi pasal, yang terlahir dari filosofi Hati Nurani Pendiri Bangsa dan Negara INDONESIA RAYA.

Bangsa dan Negara INDONESIA RAYA,  Lahir sebagai komitmen dari rasa ingin bebas dari Penjajahan terhadap "ANAK NEGERI" serta komitmen yg tinggi untuk mencerdaskan    Anak PRIBUMI, Yang mendiami "Gugusan Pulau" terbentang di Nusantara tiada tara.

Sungguh, Para Pendiri Bangsa dan Negara tidak menorehkan gagasan "MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA" yang bersifat "Prematur" karena Prematur pasti tidak teratur.

Dalam History Peradaban Nusantara.  Sesungguh-nya Leluhur pendiri Bangsa dan Negara Pun, menginginkan Gagasan yg menjadikan ANAK NEGERI Cerdas dan berdiri diatas Budaya luhur yang kokoh dan Abadi.

Bung.... Kalau laah demikian Secerca tulisan di atas, kiranya dapat menggugah Kaum Akademik untuk dapat bertanya "Apa yg salah" dengan negeri ini...??? yang jujur kita katakan ketimpangan antara si kaya dan si Miskin, Anak Konglomerat dan Anak yg melarat, dalam Paradigma Pendidikan kekinian, bagaikan Jurang terjal " GUNUNG SALAK" yang susah dipahami lika liku tapak kejiwaan...😩😩😩😭😭😭

( Yaa Allah, di bulan Ramadhan ini,  Ungkapan rasa Syukur yg tak terhingga, Kami sampaikan karena kami bangga terlahir menjadi "ANAK PRIBUMI" Bangsa dan Negara Indonesia Raya. Kami sadar bahwa di depan akan ada se-juta peristiwa, yg akan menggugah hati Nurani mereka yang tulus cinta terhadap "Tanah Tumpah Dara" Zamrud katulistiwa. Jangan pernah sia-siakan makna filosofi  dalam untaian kalimat dalam UUD 1945 karena itu " HARGA DIRI BANGSA DAN NEGARA" Indonesia Raya. Oleh. Habib IDRUS AL HAMID SI HITAM MANIS. Dalam Refleksi Cinta untuk ANAK NEGERI. Papua. 04/06/2018 )🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽

Jumat, 01 Juni 2018

RENUNGAN RAMADHAN " DIBALIK TIRAI LAILATUL QODAR "


Saudara-Saudara KU, Menangis bukan berarti hati tersakiti. Namun Kerinduan kepada Illahi Robby. Baca dalam Alam Rasa...

Suatu ketika, Seorang Santri mendatangi sang Kiyai, yg dalam keheningan malam disaat hembusan angin yg menerobos bilik dinding Jerami. Sang Santri melihat Kiyai sedang 'itiqof di atas Sajadah, sambil menguntai Tasbib dalam satu tarikan Nafas keheningan Malam prahara jiwa melayang.

Santri secara perlahan mencoba mendekati sang Kiyai   dan menggelar Sajadah, berdekatan dengan Sang Kiyai, guna mendengar "Apa Amalan" yg di lantunan oleh Sang.Kiyai. Perlahan Santri melafalkan kalimat yg di Ucapkan oleh sang. Kiyai. tak begitu lama  turun hujan gerimis namun mereka larut dalam Zikir menggeleparkan Cakrawala Bhatin yg terpenjara.

Dikala malam semakin larut. sang  Kiyai mengakhiri Zikir-nya sembari menoleh ke Santri-nya yang tunduk dengan Isak tangis dalam kehampaan Jiwa. Sang. Kiyai menyapa, Wahai Anak KU, gerangan apa dikau mengikuti jejak KU, Santri dalam kondisi Isak tangis bertutur kata " AKU Sadar Wahai Guru KU, Tabir dibalik Tirai Lailatul Qodar, memiliki Makna 1000 Bulan, sehingga AKU tak akan sia-siakan malam bersama MU.

Wahai Guru KU. Aku Pasra dalam kehampaan Jiwa karena Aku tahu setiap Nasab Ilmu berawal dari kepatuhan kepada MU, Wahai Guru KU. AKU Yakin tabir lailatul Qadar bersembunyi dibalik untaian kalimat " Yaa Rahman, Yaa Karim yg 1000 x AKU Ucapkan" pasti akan menggetarkan "Arsy Allah" yg menghantarkan Malaikat yg menyampaikan Salam bagi Makhluk Allah yg sedang 'itiqof dalam kehampaan Jiwa sembari mengharapkan  Rahmat Allah yg tak terhingga.

( Saudara-saudara KU. Andaikan Setiap Jiwa memahami, bahwa beramal tanpa Guru bagaikan menimba Air dengan kelambu. Cerita Santri dan Sang. Kiyai, yg saya torehkan di atas, Sebagai refleksi Kultur " ISLAM NUSANTARA" yg harus terjaga dalam Alam Jagad Raya di Nusantara ter-cinta. oleh. Habib IDRUS AL HAMID Si Hitam Manis. dalam balutan Syiar dan Dakwah di Timur Nusantara. Papua. 02/06/2018 )...🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼😩😩😩😰😰😰😰😰😭😭😭😭

PANCASILA, INTI POKOK DARI DASAR *"KESATUAN BER-BANGSA DAN BER-NEGARA"* ITULAH INDONESAI RAYA"



Saudara-Saudara KU, Hidup Itu bermakna kalau Engkau berbuat untuk *" AGAMA,  BANGSA DAN NEGARA"* . Baca Siapa tahu PANCASILAIS..

Bulan Ramadhan tepat-nya Tanggal 1 juni diperingati sebagai hari Lahirnya " *PANCASILA* ". Berawal dari Pembentukan BPUPKI " Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia" . Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia. " Mr.Muhammad Yamin dan Bung.Karno" pencetus Ide dasar PANCASILA.

Jika di Sadari  bahwa, Kalimat "Hari lahir", memberi gambaran kepada kita, bahwa Bait dan butiran Kalimat dalam Naskah PANCASILA, Merupakan Wujud dari " *Rasa Cinta ",  Berbangsa Satu Bangsa Indonesia dan Bertana Air satu Tana Air Indonesia,* CINTA menghilangkan Perbedaan Antara Waktu Indoneaia Barat, Waktu indonesia Tengah dan Waktu Indonesia Bahagian Timur. Untuk Itu, demi Menjaga Kedaulatan Ber-agama dan Ber-keyakinan maka Pendiri Bangsa meletak-kan " Ketuhanan Yg Maha Esa" sebagai perisai dalam sikap Berbangsa dan Bernegara, artinya Indonesia Bukan Negara Agama Akan tetapi Masyarakat Indonesia sangat Agamais. Dari sinilah di Sejarah lahir *" KEMENTERIA AGAMA RI ".*

Jujur harus kita katakan di Zaman NOW. PANCASILA Sebagai Idiologi Ber-Bangsa dan Ber-Negara sudah *Closse* . Karena Nilai-Nilai-Nya tidak bertentangan dengan Agama. Pancasila Wujud dari Akulturasi Nilai Agama dan Budaya di Nusantara. Sikap Keberagamaan, memiliki Corak ragam pesona "INDONESIA RAYA" Mulai dari Upacara Perkawinan sampai pada adat Kelahiran. Itulah "ISLAM NUSANTARA" Wasyathiyah.

Akan Mengejutkan, kalau Mayoritas "Anak Negeri" yg membaca tulisan ini, tidak bisa atau tidak dapat menyanyikan Lagu " *Garuda Pancasila "*  atau kaaah " *Pada MU Negri Aku Berjanji "* yg mereka bisa menyanyikan Lagu " *Begadang Jangan Begadang * atau *Ani* Atau sangat Mahir nyanyikan Lagu " *ISSABELLA* ATAU *SUCI DALAM DEBU "*  MASYA-ALLAH, itulah Syair lagu Nasib Yaaa Nasib Mengapa Begini...

(BUNG.. "BUTIRAN SILA"  Sila dalam PANCASILA : Merupakan hasil penerawangan Bhatin, dalam Cakrawala Indonesia Raya, yg dilakukan oleh Para leluhur Bangsa dan sebagai Refleksi dari Filosofi Pundi-pundi Agama dan Mushab-Mushab Para Raja yg terbentang Di Persada NUSANTARA. PANCASILA adalah Jati diri Bangsa dan Harga diri dalam bernegara. " Yg Mengaku Pacasilais haruslah :

1.  Agamis yg Humanis alias Moderat, bukan pencetus Huru-hara perpecahan hingga sesama Anak Negeri terasa  KIAMAT.

2. Menjunjung tinggi Rasa Keadilan diatas Peradaban yg beradab.

3. Menjaga Kesatuan Wilayah teritorial dan Keutuhan NKRI sampai titik Dara Penghabisan.

4. Meyakini bahwa  Rakyat adalah Pemilik Kedaulatan Absolut, sementara yg lain hanya sebagai pemegang Mandat.

5. Mewujudkan rasa keadilan Sesama "Anak Bangsa" dengan kebijakan Program " Merangkai Makna Satu Untuk Anak Negeri yg mampu dan berdaya saing mengangkat Wibawah INDONESIA RAYA... Bukan "ANAK TIRI" Dari Negeri yg tidak tahu Asal Usulnya. Naujubillahi min-jaliik..oleh. Habib IDRUS AL HAMID Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. 01/06/2018 )  Cintai Laaah Tana Kelahiran MU, Agar KAMU, Abadi dalam Karunia Allah..🇮🇩 🇮🇩🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽🙏🏼🙏🏼🙏🏼

" MUNGKINKAH INI POLITIK DOMINO JEBAKAN BATMAN, ALA RATNA SARUMPET "

Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID. M. Si Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA _____________________ Saudara-saudara KU. Terkadang kita harus berhen...