Jumat, 31 Agustus 2018
" PATOLOGI TRUBULENSI KEPEMIMPINAN NASIONAL "
Dr. Habib IDRUS AL-HAMID, M.Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. ZAMA Telah mengalami Polarisasi, sehingga kita butuh "PEMIMPIN" yang Cerdas, Kuat, Tdk Militerialistik amat, Negarawan dalam Pandangan Agar INDONESIA ABADI SEPANJANG HAYAT.
__________________________________________
*"Indah-nya Rumah kita"* apabila di penuhi dengan Orang Hikma, bukan Sahwa Sangka. Karena sesungguh-nya "Sahwa Sangka" mengotori jiwa. Saat ini Euvoria memcari *"Pemimpin Nasional"* yg Terbaik, sedang mengalami Turbulensi, yang membuat setiap orang Panik dan Lemas, seakan-akan *"Bangsa"* kita terlambat tinggalkan landasan dan juga terkesan ada penyakit yang menjangkit setiap "ANAK NEGERI" bahwa Cari *Pemimpin Bego"* agar bisa di atur, atau Cari *"Pemimpin Gila"* karena Orang Gila selalu ber-ekspresi, meskipun setiap Insan ketawa dan mencibiri.
*Trubulensi Embrio Patologi*, Kepemimpinan Nasional mungkin sedang terjadi di Negeri ini. Karena ribuan atau ratusan Insan yang mendiami *"Indonesia Raya",* selalu ribut tatkala mencari *Pemimpin Nasional*, seakan-akan kita kehilangan jati diri dan rasa percaya diri satu dengan lainnya. Anggapan *"sebahagian politisi"* bahwa-sanya Profesor, Doktor Atau mereka yang berpengalaman dalam berbagi bidang, adalah barang pajangan yang diletakkan mengapit Orang Bego dan Orang Gila yg kebetulan jadi Pemimpin di " REPUBLIK KARTA KENCANA ". Apakah ini bahagian dari *"Ramalan Nubbuwah"*. Ataukan kondisi ini sengaja di ciptakan agar kita terpenjara oleh "Nafsu Angkara".
Dalam pada itu, Upaya pengetatan Syarat untuk memjadi *"Pimpinan Tinggi, Pimpinan Perguruan Tinggi, atau Menjadi ASN"* , yang harus memiliki Usia Maksimal 35 s/d 60, dan berpendidikan minimal S1, serta harus berlatar belakang Guru Besar, yang pada Akhirnya "PRIBUMI" *Emas dan Berlian* yg mampu mengukir karya Gemilang, terhempas oleh *"Kepanikan Sang-Penguasa"* yang menepuk *"dada"* sebagai yang maha Kuasa. *Oooo Sang Durjana tunggu balasan-Nya.*
Lain hal-nya, untuk Memcari Pemimpin Nasional (bc. Presiden dan Wakil Presiden) ". Tidak serumit sebagaimana tersebut di atas. Syarat Presiden dan Wkl.Presiden adalah "Ber-kewarga-negaraan Indonesia yang dibuktikan dengan tanda lahir serta memiliki riwayat sehat Jasmani dan Rohami. Ini adalah Fakta dalam berita, anak kecil yg bercerita bahwa buat apa Sekolah tinggi-tinggi karena untuk jadi Presiden Syarat-nya tidak perlu Doktor atau Profesor. Karena Cukup ber-Ijaza Paket "C" seterus-nya *"Blusukan"* ke taman dan pelataran Budaya yg disoroti oleh banyak orang pasti *Engkau* terkenal dan di kenang. " Kata. Budayawan. Sutejo " : Jangan bersembunyi dibalik Kalimat " Menteri sebagai Pembantu Presiden, jadi Presiden TELMI itu manusiawi, karena ada Menteri yg super cerdas. Hancur ini negeri kalau begini.
( Bung... Mari kita tegaskan. Nilai Luhur dalam ber-bangsa dan ber-negara, dengan tidak saling menghujat sesama "Anak Pribumi". Saat-nya kita siapkan Generasi Emas Orisinil Indoneaia Raya yang akan mengisi tahta dalam Jiwa dan Raga. Refleksi terhada Fenomena tensi Politik yg sedang tejadi. Oleh. Hb. IDRUS AL-HAMID Si Hitam Manis Pelipur Lara untuk MU Sesama dan bersatu untuk selamanya demi, *NKRI* Jaya.
( Papua, Jum'at 31, Agustus 2018 )...
Selasa, 28 Agustus 2018
" PESAN ASIAN GAMES 2018 - JANGAN CINTAI NEGERI MU SETENGAH HATI "
Dr. HABIB IDRUS AL-HMAID, M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Jangan Engkau Kotori Dulang Makanan MU Sendiri. Karena di Nusantara ini Engkau di- *lahirkan* dan di *besarkan* . Baca dalam Neraca Jiwa "ANAK NEGERI".
____________________________________
Asian Games 2018, tidak lama lagi akan berakhir. Indonesia Negeri sejuta rasa, berada pada peringkat "4" (Empat). Perjuangan Putra-Putri Bangsa Indonesia Raya, telah sampai pada puncak rasa cinta yang tulus terhadap Ibu Pertiwi. Generasi Emas Nusantara yang mengukir prestasi di Asian Games, berderai air mata, dalam shicologi gegap gempita. Terlihat dekapan dan Ciuman terhadap Sang "MERAH PUTI" memberikan makna "Cinta ini Negeri" sepenuh hati. Meski rasa lelah dan letih dalam menghasilkan karya untuk "Ibu Pertiwi" penuh perjuangan selalu dihadapi.
*Para Atlit*, mampu menunjukkan contoh terbaik saat mengukir Peradaban Nusantara dalam *the riil*, "CINTA NEGERI INDONESIA RAYA" Sepenuh Hati dengan Medali. Saat Merah Puti berkibar disaksikan oleh belasan Negara yang turut merasakan Ekspresi Cinta Indonesia Raya dalam Jiwa dan Raga. *Para Atlit* yang berasal dari kalangan Menengah atau rakya biasa, mampu mengangkat Wajah Indonesia Raya, yang melampowi terget Perolehan Emas di asian Games 2018, itu Fakta bahwa mereka " CINTA NEGERI SEPENUH HATI".
Sepenggal tulisa di atas, sebagai refleksi fenomena "CINTA INDONESIA SEPENUH HATI". Nusantara adalah Wilayah yang dalam pandangan Negara Asing dan Aseng bagaikan Zamrud Katulistiwa, sehingga Rasa Nasionalisme atau cinta Negeri dianggap Virus. Untuk itu ada upaya sisitematis memunculkan simbol-simbol Segragasi guna merajut perpecahan antara sesama Anak Negeri sedang dilancarkan. Yang *Fakta-nya* terlihat dari banyaknya "Ujaran Kebencian" dan tebaran berita "Hoax" yang cukup menguras perhatian, yang pada akibat-nya. Bangsa Asing dan Aseng mulai mengeksploitasi SDA dan secara sistematis memasuk-kan tenaga kerja Aseng tanpa kita sadari. Kita dibiarkan Sibuk menghujat satu dengan lainnya, hanya karena Tahta, Harta dan Wanita, yang dapat memberikan kesan seakan-akan kita "CINTA INDONESIA RAYA SETENGAH HATI".
( Bung : *Berbeda Pendapat dan atau beda Pendapatan* itu adalah Sunnahtollah dalam Hukum Kausalitas. Bung.. Kalau *Anda malas,* jangan marah kalau orang lain datang dan menjadi tuan di *Negeri MU* Sendiri. *Bung..* Sejarah membuktikan bahwa sesungguh-nya, kebanyakan Bangsa hancur berantakan karena " Ulama dan Habaib" (bc. Kaum Agamawan dan Akademisi) keluar dari barak-barak harapan "UMMAT" untuk di ayomi ke "GELANGGANG" terdepan dalam Politik Praktis. Bukan berarti Haram Ber-politik Praktis, tetapi setiap Insan harus Yakin Allah Takdirkan untuk jadi Pengayom Ummat maka harus di syukuri kalau tidak, pasti *BUMI* diperintah **Goyang Pinggul* biar semua menyadarai bahwa jangan buta seribu *Nestapa.* Oleh. Habib. IDRUS al-hamid, Si Hitam Manis Pelipur Lara Selalu di Hati. Papua. Rabu. 29, Agustus, 2018)...🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼☝🏽☝🏽☝🏽
Senin, 27 Agustus 2018
" # JOKOWI 2019 LANJUTKAN DAN # 2019 GANTI PRESIDEN"
Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID, M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Mungkin kita ketahui bahwa, menjadi yg terbaik itu, melalu Proses ujian sepanjang jalan Kenangan. Bersabar Laaa bersabar Laaah..👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽🙏🏼🙏🏼🙏🏼
*Derai air mata* saat menyaksikan Anak Negeri saling berhada-hadapan satu dengan yang lain. Mungkin mereka dimanfaatkan, atau mungkin sudah muak dengan kondisi ekonomi yang dihadapai. Kalau kita lakukan Kilas Balik Sejarah dari Zama Kemerdekaan hingga Zaman ORBA, "PILPRES ATAU PILEK" tidak terasa seperti saat ini. Apapun alasan-nya kita " Satu Nusa Satu Bangsa dan Satu Bahasa". Pantas-kah kita saling menghujat. Apakah terasa puas bathin setiap insan kalau semua orang yang berbeda pilihan harus di hujat. Sampai ibadah Haji dalam Puncak Wukuf di Arafa saja di Nodai dengan *Cara-Cara Dajjal* mengibarkan Simbol perpecahan sesama *Anak Negeri* Itu *Biadab Nama* -nya.
* Pesta Demokrasi * , sebuah istilah yang lajim didengar oleh siapapun juga, yang suasana khebatinan menegaskan bahwa : " Berbeda Pilihan" ada hal yang biasa. Kalau kita rasakan shicologi tempo dulu, bahwa Kekerabatan, Kebersamaan dan kekompaka. adalah "Harga Diri" Bangsa Indonesia Raya dan tidak dapat di hancurlan hanya kerena perbedaan Pilihan dalam demokrasi. Apakah telah hilang hati nurani "Cinta ini Negeri". Ataukah hanya untuk sebuah kekuasaan, Peradaban ini Negeri kita hancurkan dengan memelihara pertarungan sesama "Anak Negeri".
Apabila sederetan teori tentang Politik, Demokrasi dan Civil Sosaitiy kita pelajari, maka yang kita temukan saat ini adalah sedabg terjadi "Keriminalisasi" Sesama Anak Negeri. Kita saksikan setiap stasiun TV menampilkan berita, bahwa ada pertarungan antar kelempok masyarakat perihal Perbedaan pilihan *Politik* dalam kemasan sibol-simbol aroma Politik Praktis, yang hijenis tetapi instan.
Andaikan, Kekuasaan adalah Air, maka setidak-nya ia mampu menghilangkan "Haus Dahaga". Andaikan Kekuasaan itu adalah "Api " maka seharus-nya, Ia di gunakan untuk memasak makanan yang lezat dan memiliki Citarasa Tinggi. Akan berakibat rusak-nya "Peradaban" kalau kekuasaan bagaikan *"air baah"* yang berupaya memghancurkan setiap mimpi mereka yg berharap. Akan berakibat "hilangnya Kasih Sayang" apabila kekuasaan bagaikan "Api" yg menggelora membakar setiap *lorong Tapak Peradaban* tanpa meninggalkan sedikit belas kasih kepada rerumputan yg hanya mengharapkan tetesan Embun yg bersahaja.
Wahaiii " *PRESIDEN* " *KU* Siapapun *ENGKAU* rakyan dari *Sabang* sampai *Merauke* hanya ingin Kesejahtraan, Keadilan dan kemakmuran dalam bidang Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan dan Kepastian Hukum, bukan " PENCITRAAN" layaknya Artis Hollywood, yang menggunakan segala cara tanpa mengindahkan "Sunnahtollah" bahwa Manusia sebagai khalifa di Muka Bumi, bukan *Pembunuhan Karakter* antara satu dengan lainnya. *Ingat yang Engkau Perbuat itulah yang Engkau Pertanggung Jawabkan*.
(Saudar-saudara KU. Jangan membenci seseorang tanpa alasan, karena boleh bisa jadi kebencian MU berakibat Karma yang mendatangkan bencana. Jangan memuja seseorang karena tempat pemujaan hanya untuk Allah Semata. Pujilaah Seseorang karena KARYA NYATA yang telah dipersembahkan karena itu berakibat pada lahirnya Inovasi dan Motivasi kehidupan Abadi. Oleh Hb. IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. Selasa, 28. Agustus, 2018 )
Jumat, 24 Agustus 2018
" PENDUDUK LANGIT GELENG KEPALA "
Dr. Habib IDRUS AL-HAMID, M.Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Diam menikmati kesendirian, itu bukan Solusi. Bencana silih berganti, karena banyak Insan tak Pandai Terima Kasih. Baca dalam lamunan akademis.
_____________________________________
Disaat manusia diciptakan, tersingkap isyarat bahwa, manusia salin bunuh satu dengan lainnya. Disaat "Adam dan Hawa" melanggar kesepakatan kebebasan terbatas di Surga. Allah *relokasi* mereka ke Alam Dunia. Disaat mereka beranak-pinak, muncul *perselisihan* antara "QOBIL DAN HABIL", disaat Perselisihan Habil dan Qabil terjadi dalam perebutan " *WANITA* " maka, "Mahar" sebagai solusi menuai bencana. Habil dibunuh oleh Saudara-Nya Sendiri (Qabil). Oooooo Kejam-nya Dunia. *Penduduk Langit Geleng Kepala* ..!!!
Nusantara dikenal sebabai bengsa yg sangat Humanis dan Religis. Setiap saat terdengar suara gemuruh sholawat dan ngaji dimana-mana. Masyarakat-Nya Santun dan bersahaja. Namun apa jadi-Nya, belakangan ini semua Insan terperanga, menyaksikan Episode baru dalam Peradaban Nusantara.
*Gus Mus*.... Dalam
Untaian Penuh Makna dan Hikmah. :
" *Indonesia air mata kita.
Bahagia menjadi nestapa.
Indonesia kini tiba-tiba
slalu di hina-hina. Bangsa disana banyak orang lupa, dibuai kepentingan dunia,
tempat bertarung berebut kuasa, sampai entah kapan akhirnya* " ...😭😭😭...🙏🏼🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Kata-kata mutiara " *Gus Mus* " menggugah Nurani Kebangsaan kita. Sudi-kah kita kembali kemasa lalu pada Zaman Habil dan Qobil, Hanya dikarenakan " Harta, Tahta dan Wanita, sesama Anak Negeri saling menyandra dan bunu-bunuhan. Hidup itu seharus-nya pandai berbagi antar sesama Anak Negeri. Ooooo Kejam-nya Dunia. Penduduk Langit Geleng Kepala. !!!
Mudah, menunjuk orang lain bersalah, tetapi tidak mudak mengakui kesalahan sendiri. Malu melihat pemberitaan di media Massa, karena memcedrai citra Bangsa dan Negara Indonesia Raya. Menghina sesama sesungguh-nya tidak ada "Faedah". Apakah kita *sudi* menyaksikan pertaruang berbalut Fitnah di Negeri Sendiri. Ooooo sesungguh-nya Penduduk Langit Geleng Kepala.
( Saudara-saudara KU. " Penduduk Langit Geleng Kepala". Karena Antara Fakta dan Citra bermakna, "tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan yg diharapkan". Kata Pujangga Melayu. : Sadarkah kita bahwa sesungguh-nya *NUSANTARA* adalah Negeri Para Syuhada, jangan Sampai Malaikat Turun Kebawah, sudah tidak geleng kepala lagi... Oleh. Hb. IDRUS AL-HAMID, si Hitam Manis Pelipur Lara di Papua. Sabtu, 25. Agustus. 2018 )..
Kamis, 23 Agustus 2018
" MALAPETAKA HILANGNYA KASIH SAYANG SESAMA "
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Qabil menjadi bringas karena Habil berperilaku yg menyenangkan. Kalau kita memjadi lupa karena jauh dari *Budaya Leluhur* yg selalu merajut silaturrahim sesama "ANAK BANGSA"
__________________________________________
Kisah seorang ibu, yang mencurahkan Kasih Sayang terhadap Anaknya, sehingga tumbuh besar memjadi sarjana dan menduduki jabatan yg mempesona. Namun akan jadi bencana jikalau, setiap kita melupakan untaian jemari sang ibu, dengan nyanyian dan dekapan sepenuh jiwa. Ibu tak merasa nyaman apa bila tidak melihat kita senyum dan bergembira. Ibu akan merasa hampa, melihat kita dihina dan di campak-kan.
Disaat, bertebaran idiologi " *Hedonis* " atau *Kebebasa* tanpa Arahan, karena masing-masing sibuk dalam perburuan pundi-pundi Dinar yang berakibat, sang anak mulai terlibat dengan " *Gemerlap-nya Dunia Malam** ", mereka melupakan Kasih sayang ibunda tercinta. Loyalita dalam Neraca Kausalitas, dalam realita. Generasi yg menjadikan teknologi sebagai teman sejati, mereka sangat konsisten terhadap dunia tanpa masa depan. *"Hanphon"* ada yg memahami sebagai lokomotif penghancur " *Peradaban Masa Depan"* . Kasi Sayang Sesama, hanya terlihat sebagi Kamuflase ( bc. Kura-kura dalam Perahu). Karena itu, setiap insan saling tidak percaya bahwa sesungguh-nya Kebebasan seharusnya dimaknai "hidup bersama dan saling menjaga". Tidak menebar fitnah untuk memjegal siapapun dia. Inilah Fakta bukan cerita kaum Hedonis semakin "Nyata" dimanapun kita berada.
Malapetaka hilang-nya kasih sayang sesama. Mampu menghadirkan bencana yang sedang terjadi "seantero" Dunia. Kita sesungguhnya tidak akan menjadi *" insan Gemintang "* tanpa kasih sayang sesama kita, terlahir dalam ayunan *Kultur Budaya Bangsa* dalam harapan menyongsong masa depan "Gemilang" bukan masa depan yang hilang. Berbuatlah yg terbaik, karena sesungguh-nya, setiap kebaikan membuat *Engkau* mulia dalam Peradaban, meskipun terkadan untuk itu Engkau difitnah dan diragukan.
( *Saudara-saudara KU*. Setiap kita terlahir tanpa memilih. Kangan memyepelekan Silaturrahim karena itu perisai kehidupan. Engkau mulia bukan karena kokoh di tahta, karena itu hanya sementara. Janga perna menilai seseorang dari gelimang-nya harta ataupun tingginya tahta karena itu akan menusuk dada dalam himpitang kecemburuan yg mengangah. Oleh. *Habib. IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara* . Papua. Jum'at, 24. Agustus 2018 )..
Rabu, 22 Agustus 2018
" POTENSI ANAK NEGERI YANG TERLUPAKA
Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID, M Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Sesungguh-nya *Generasi Emas* kita Punya. Yang perlu kita lakukan adalah menggali, mendalami dan menapis butiran Emas di tengah belantara Nusantara. Baca semoga bermakna.
_____________________________________
Fenomena dis-integrasi identitas "Nasionalisme", yang dapat dirasakan oleh masyarakan di "Negara Maju" pada era Revolusi Industri. Periode antara tahun 1750-1850, di mana terjadi-nya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Keterbukaan dalam menerima perubaha tanpa menegaskan identitas budaya Bangsa dan Negara, memberikan dampak yg sangat luar biasa terhadap " Rasa Nasionalisme ".
Pada Zaman kita saat ini, Revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ), memberikan dampak positif terhadap perkembangan nalar, yang dapat memperluas akses terhadap ruang publik tak terelak-kan. Namun, terdapat dampak negativ terhadap perubahan Karakter sosial dan budaya, sehingga setiap fenomena dewasa ini, setidak-nya memberikan gambara kepada kita bahwa ada upaya sistematis memalingkan harapan "ANAK NEGERI" Untuk menjadi *Tuan* di Negeri Sendiri.
Disaat, M.Zohir memenangi lomba lari 100 Meter Dunia di Finlandia, hampir seluruh media cetak dan elektronik di Indonesia memberitakan, sampai keinginan memberikan hadiah rumah dan lainnya, tidak di tanggapi. Rasa Nasionalisme menggelora karena Pengakuan Publik Internasional terhadap prestaai-Nya sebagai kepuasan bhatin, yang melebihi hadia "tiba saat tiba akal".
Disaat Seorang Bocah dari NTB ( Jhoni ), memanjat tiang bendera sebagai rasa prihatin saat Paskibraka panik karena lepasnya tali dari ikatan. Namun rasnya jadi lain saat kita menyaksikan dari kejauhan, maka " Rasa Nasionalisme " seakan-akan membara, sehingga berbagai komentar sangat luar biasa, sampai-sampai pujian berdatanga dari Singga Sana, itu sangat luar biasa, salut dan bangga kepada setiap mereka yg sangat responsip terhadap kejadia putus-nya tali Bendera.
Disaat, " ANAK NEGERI " yang mampu, mengurai nalar interpretasi Fakta dan harapan yang mereka peroleh dari pengamatan Pematang sawah, menghasilkan karya " ROBOTIK " mampu meraih medali, di Meksico yang jumlah peserta 193 negara hanya sepintas dalam berita. Meskipun negara tempat diselenggara perlombaan Robotik iternasional sangat takjub terhadap Anak Negeri Indonesia Raya. Ini adalah satu dari sekian ratus "ANAK NEGERI" Di Indonesia Raya, yang memiliki prestasi gemilang di Pentas Internasional. Apakah, kita mampu memberikan perlakuan atau pengakuan serta Penghargaan terhadap Prestasi Anak Negeri Indonesia Raya tersebut di atas. Ataukah kita lagi sedang hilang ingatan, sehinga yang terpikirkan hanya laah fenomena Insidentil, yang menjadi perhatian " Sang Pemilik Kedaulatan ".
° Saudara-saudara KU. Berikan laah, Rasa "Hormat dan Penghargaan yang sama " terhadap Karya Cipta Anak Negeri, karena itu abadi sepanjang hayat, serta mengokohkan " Rasa Nasionalisme " yang tertanam dalam sukma terdalam°. Bung.. Kata sang Pujangga : Bergelora dalam popularitas akan membuat seseorang hina pada akhir-nya. Menegaskan jati diri adalah menjadikan "ANAK NEGERI " Menjadi "Tuan di NEGERI SENDIRI". *Marahi* laah Anak Negeri dengan *Senyum* agar mereka " Cinta ini Negeri sepenuh hati ". Sadar atau tidak kita sadari, sesungguh-nya kita sedang berada di persimpangan Jalan. Maka kewajiban kita menuntun mereka kejalan yang sebenarnya. Oleh. Habib. IDRUS AL-HAMID, Si Hilakukanis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua, 23. Agustus, 2018.... 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🙏🏽🙏🏽🙏🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽👍🏼👍🏼
Sabtu, 18 Agustus 2018
"NASIONALISME KAUM MINOR DI PERBATASAN NUSANTARA "
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Rasa Nasionalisme harus di wujud nyatakan, meskipun untuk itu kita harus berkorban demi Nusa Bangsa dan Agama. Baca insya-Allah bermakna.
_____________________________________________
Disaat Gemuruh Perayaan HUT Kemerdekaan RI, Ke 73 dilaksanakan se-antero Nusantara, berbagai persiapan dilakukan, dalam suasana yang dianggap lumrah dan biasa-biasa saja. Perayaan HUT Kemerdekaan adalah bahagian dari perayaan sebagai wujud dari kilas balik sejarah Indonesia Raya.
Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 73. Menegaskan makna bahwa setiap wilayah berkewajiban memgibarkan bendera " Merah Putih " sebagai penegasan Kedaulatan NKRI. Pasukan Penggerak bendera dilatih dan disiapkan dengan komposisi Pasukan 8 sebagai Pembawa Bendera, Pasukan 17 dan Pasukan 45, sebagai pengawal Sang Saka Merah Puti. Mereka adalah Putra, Putri terbaik yg berasal dari berbagai sekolah yang terpilih, dan dilatih kurang lebih 2 bulan lama-nya dan dipastikan " Profesional " dalam melaksanakan tugas Paskibraka.
Lain Cerita. Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 73, di "Timur Nusantara" khusus-nya pada wikayah-wilayah Perbatasan, suasana terasa lain dan berbeda. Hal ini dapat dipahami karena Timur Nusantara berbatasan langsung dengan beberapa negara. Yang pada kenyataan-nya wilayah perbatasan ketegangan selalu terjadi sehingga rasa Nasionalisme diragukan oleh sebahagian kalangan.
Namun harus disadari, Nasionalisme adalah bahagian dari keteguhan mempertahankan " MERAH PUTIH " Tetap berkibar di-udara, hingga terlihat tegas integritas Wilayah NKRI Tetap terjaga di Perbatasan Nusantara.
Rasa Nasionalisme " Kaum Minor " di Perbatasan Timur Nusantara membara tatkala, tali yang digunakan untuk mengikat " Sang Saka Merah Putih" untuk di kibarkan terlepas dari kekang dan kembali ke hujung tiang bendera, tiba-tiba seorang Siswa SLTP, diperbatasan NKRI dengan Timur Leste, dalam kondisi tubuh tak sehat badan, menunjuk-kan rasa Nasionalisme sejati, memanjat Tiang bendera tanpa alas kaki. Meskipun Imposibel bagi kita yang menyaksikan, karena tiang " Bendera bukan sebesar, Pohon kelapa atau Pohon Pinang" namun Bocah Nasionalisme sejati di NTT (Jhoni), tak peduli apa yang akan terjadi, demi berkibar-nya Sang Saka " Merah Putih" IA mampu menegaskan jati diri, bahwa Kaum Minor di Timur Nusantara memjadi contoh Nasionalisme Sejati.
( Saudara-saudara KU. Pasti ada diantara Insan di Nusantara yg menganggap " Bendera Merah Putih " adalah Simbol Negara. Namun bagi yang paham bahwa Merah Putih apabila dikibarkan di Timur Nusantara yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga, itu bahagian dari " Harga diri Bangsa dan Negara " sehingga " Merah Putih " harus tetap berkibar, meskipun jiwa dan Raga dipertaruhkan untuk memanjat "tiang bendera" yang beresiko menghancurkan masa depan yang menanti. Oleh. Hb. IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Perbatasan Timur Nusantara. Papua. Minggu, 19. Agustus 2018 )
Jumat, 17 Agustus 2018
" TEGAK-NYA KEDAULATAN DI NUSANTARA "
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK Papua
Saudara-saudara KU. Kedaulatan adalah Istilah yang sangat "Kami" rasakan di wilayah Timur NUSANTARA. Meskipun kami hidup dalam lamunan ganas-nya Alam dalam batas-batas antar Negara, kami tak Gentar mengatakan " NKRI HARGA MATI".
___________________________________
Disaat, semua mata tertuju pada berbagai peristiwa kontestasi Politik, disaat semua jiwa meradang " Duka Lombok " Nusa Tenggara Barat. Disaat " Obor Asian Games" berpindah dalam harapan mengukir Peradaban. Tak Terasa 73 tahun Indonesia Merdeka, berlepas diri dari keterkungkungan penjajahan menusuk raga. Kemerdekaan menjadikan kita sebagai Negara yang berdaulat.
Kedaulatan, selalu dipahami, tidak ada lagi penjajahan di Negeri sendiri. Kita berdaulat dalam segala bidang, tidak boleh ada diskriminasi dalam pemerataan Pembangunan di Nusantara dari Sabang hangga Merauke.
Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 73 di tahun 2018 ini, terasa sangat berbeda. Sidang Tahunan di Gedung Nusantara, MPR dan DPR RI digelar, bagaikan Pagelaran tanpa makna kepatuhan setiap perwakilan Rakyat yang sedang sibuk menguntai kata pada "DAPIL" agar terpilih kembali. Sesungguh-nya tidak kita sadari, Indonesia bukan hanya " JAKARTA ". Untuk itu para elit di Jakarta jangan sembarang berbicara, dalam euforia kontestasi tanpa makna karena saling menghujat antara sesama, itu sesungguh-nya bukan "Budaya Leluhur Bangsa".
Kedaulatan di Nusantara sangat terasa, disaat Pertandingan Sepak Bola U-16, U-19 dan U-23, diselenggarakan, rasa-rasa-nya penonton di seluruh penjuri Indonesia Persada turut serta mengelus Dada kalau "TIM GARUD" telah di kalah-kan. Apakah itu sejati-nya menegaskan Kedaulatan Indonesia Raya. Kalau demikian, seharus-nya setiap "Anak Bangsa" dimanapun berada, " Apa bila " menguntai "Karya Nyata" haruslah di berikan penghargaan sebagai wujud kepedulian Negara terhadap Karya "ANAK BANGSA" di Nusantara.
( Bung... Kita berdaulat apabila kita menghargai sesama, kita berdaulat disaat Anak Bangsa diperlakukan bagaikan " Putra Mahkota ". Untuk itu sudah saatnya, kita bersatu membusungkan dada, menegaskan Makna INDONESIA RAYA. Dimanapun kita berada. "NKRI HARGA MATI". Bukan berarti menghargai Bangsa lain dan menginjak-injak Bangsa sendiri. Kita Bersatu pastibakan di segani. Oleh. Hb. IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Bumi Cenderawasih Timur Nusantara. Papua. Jum'at, 17 & 18. Agustus - 2018 ). 🇮🇩 🇮🇩 🇮🇩 ☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
Rabu, 15 Agustus 2018
" TOLERANSI BERAGAMA ATAU TOLERANSI KEHIDUPAN SOSIAL "
Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID, M. Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Menjadi berbeda dalam "Beragama" bukan membuat kita, kehilangan rasa Toleransi karena kita terlahir di atas permukaan bumi, bukan bahagian dari kehendak Insaniy tetapi illahi Robbiy.
__________________________________
Sesungguh-nya istilah toleransi adalah makna dari sebuah akibat yg terjadi atas adanya kesenjangan tanpa ada keberpihakan. Setiap individu atau kelompok memaknai Toleransi sebagai sikap menerima perbedaan, sehingga kekerasan tidak bisa di pahami sebagai hilangnya "Toleransi", karena Kekerasan dalam Ilmu "Kriminologi Sosial", memiliki dasar asumsi sangat Universal, tidak hanya melekat pada Isu SARA. Boleh bisa jadi ada substansi lain yg sangat dominan, seperti halnya Ekonomi, Politik dan kebudayaan.
Agama memiliki Nilai, yang bersifat Absolut dan tidak bisa di toleransi-kan pada aspek Religis, namun pada aspek Humanis ( bc.Hubungan antar Manusia ) dapat dipahami, karena hadirnya kegiatan-kegiatan umat beragama tidak menggugurkan Ke-imanan seseorang terhadap Agama yg dianut-nya.
Jadi Sesungguh-nya.
Toleransi ber-agama merupakan akibat yang timbul dari penghargaan terhadap sikap orang, dalam melaksanakan Fungsi agama yg diyakini-nya tanpa memaksa orang lain untuk mengikuti dan meyakini. Kalau demikian adanya. Apa relefansi-nya kalau setiap ada konflik, harus tokoh Agama yg diminta tampil memyelesaikan. karena hal ini dapat memberi kesan bahwa " Agama dianggap berkonstribusi terhadap terjadi-nya Konflik " dalam masyarakat.
Kaum Sosialis dan Modernis Hedonis, berupaya menyembunyikan sebab konflik yang sesungguh-nya. Toleransi dalam Kehidupan Sosial, sesungguh-nya berkonstribusi dalam menekan potensi Konflik kalau dipahami. Dalam teori Sosial bahwa "Stratifikasi" akan melahirkan wajah kesenjangan, dalam soal Kapital Ekonomi, Sistim Eklusifisme Politisi dan transformasi kebudayaan yang memaksa kebudayaan Lokal utk berubah, itulah sesungguh-nya lebih dominan atau berkonstribusi terhadap Konflik Komunal dewasa ini, bukan Agama.
Setidak-nya dapat dipahami bahwa, tidak semua konflik, dianggap telah terjadi in toleransi Ber-agama. Karena Agama sesungguh-nya hanya dijadikan "Hidden isu" dalam kontestasi sosial, disaat setiap orang atau kelempok bertaruang merehut kepercayaan Publik guna menguasai Suber-sumber kapital saat ini.
( Saudara-saudara KU. Munkinkah harus kita katakan,,!!! Jangan percaya bahwa Agama berkonstribusi terhadap Konflik yang ada saat ini, karena pertentangan dalam keberagamaan selalu disebabkan adanya Sekte baru, yang mengklaim bahwa mereka laah yang paling benar dalam menterjemahkan makna nilai-nilai sebuah Ijtihad dalam ber-agama. Sangat sedikit yang melakukan kajian apakah " Toleransi Kehidupan Sosial" adalah faktor dominan menyumbang Konflik, yang aktornya sangat beragam. Semoga tulisan sebagaimana tersebut di atas mampu menggugah "Nurani Akademik" setiap insan untuk merubah "persepsi" terhadap sebuah fenomena dalam memahami "Konflik Sosial" yang terjadi. Oleh. Hb. IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara. Bali, Rabu 15, Agustus-2018 ).
Selasa, 14 Agustus 2018
" PASAR BEBAS CAPRES dan AMBANG BATAS PENCALONAN - TREAHOLD "
Dr. HABIB. IDRUS AL-HAMID. M. Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Berikanlah dukungan kepada mereka yang dianggap terbaik, Saat "PILEG" Karena sesungguh-nya Kultur "Budaya Bangsa" dalam "Demokrasi Kerakyatan" sedang mengalami "Distorsi Komunikasi" yang melahirkan Istilah " Salah Paham dan atau Paham Salah. Baca dengan hati nurani..
_________________________________
Saat ini hampir, diseluruh Stasiun TV, menayangkan berita yang merangsang "Logika Mantik" setiap Anak Negeri yg sedang asyik dalam tontonan Acara "Dialog Aku Anak Indonesia". Dialog yg membingungkan, karena yg ada hanya "Hujatan, Cemoohan, dan saling menjatuhkan. Suasana tersebut memberi kesan seakan-akan "INDONESIA RAYA " hanya di miliki oleh Individu atau Kelompok Tertentu. Isu yang sangat menarik dibahas adalah "PASAR BEBAS CAPRES". Namun kenyataan-nya yang terjadi adalah pembatasan hak setiap Warga Negara untuk dapat mencalonkan diri sebagai CAPRES atau CAWAPRES.
Amandemen UUD, yang terjadi di Parlemen beberapa Saat yang lalu, malahan memberikan nuansa "Demokrasi" Saling menyandra, yang sedang terjadi di Negeri ini. Artinya, Yang merasa besar akan memangsa yang dikesankan kerdil. Kalaubharus jujur,
*Sesungguh-nya UUD hanya, mengatakan seseorang dapat diangkat memjadi PRESIDEN** Setelah memperoleh Suara 50+1. Tidak ditemukan ketentuan "Ambang Batas Pencalonan " (Treahold) 20%. Itulah Multi Tafsir yang menyesatkan guna penyandraan.
Inikah Wajah Demokrasi kita Saat ini. Jangan heran kalau di Indonesia tercinta ini, hanya dua Pasangan Colon Presiden Dan Wakil Presiden, yang pada Akhir-nya Putra-Putri Terbaik Bangsa Indonesia yang "Multi Talent" tidak berkesempatan untuk diusung menjadi Presiden & atau wakil Presiden.
Bung..!!! Sampaikapan kita harus berdiri dibalik bayang-bayang tipu muslihat " Kaum Kuning Dan Kaum Merah " yang sesungguh-nya akan punah di tahun 2024. Saat-nya kita siapkan Generasi EMAS menyongsong tahun 2024. Sehingga Bangsa Indonesia, kembali seperti sedia-kala.
Dahulu kita tahu bersama, Parlemen (BC. DPR & MPR ) Sangat berwibawah, sebagai Lembaga Aspirasi serta simbol Inspirasi dalam pengawasan dan pengendalian terhadap Lembaga Eksekutif. Namun saat ini sangat berbeda " PRESIDEN " Berubah menjadi yang Maya Kuasa di atas Bumi ini. Memiliki kewenangan yg sangat luas. Anak Negeri yang Cerdas dan Pintar tersandra ibarat " Orang Sholat Jenaza" pasrah kepada Imam apapun katanya. Suasana seperti ini sangat berbahaya dalam Kesatuan Bangsa. Artinya tidak Zaman-nya lagi setiap kita sailing menyandar karena " NEGARA INDONESIA RAYA", bukan Rumah Sakit yang setiap Insan tersandra oleh penyakit bhatin " CINTA TANAH AIR " tetapi setengah hati.
(Saudara-saudara KU. Jangan bernah gentar terhadap Pedang Terhunus, satukan hati demi kejayaan ini Negeri. Kalau bukan kits siapa lagi dan kalau bukan Semarang Japan lagi. Olej. HB.IDRUS AL-HAMID, Si Hiram Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Bali. Selasa.14/08/2018 ) Merdeka atau di Jajah Kembali.
Minggu, 12 Agustus 2018
" MELAWAN KAUM KUNING DAN MERAH, MENEGASKAN AKU INDONESIA RAYA "
Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID. M.Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Kalimat "Penjajahan di atas dunia harus di hapuskan karena tidak sesuai Pri-Kemanusiaan dan Pri-Keadilan. Kalimat tersebut menegaskan. Penjajah adalah mereka yg hilang-nya Nilai-nilai Kemanusiaan dan Susah berlaku Adil ANAK NEGERI.
____________________________________________
Dalam Paradikma Sosial, dan Ekonomi. Kaum Kuning selalu identik dengan Emas atau Pemilik Modal ( Aseng ), dan Kaum Merah Identik dengan Idiologi dalam membangun sistem Eklusifisme Ekonemi Sosialis (bc.Komunis). Sementara dalam Paradikma Kekuasaan. Kaum Kuning selalu Ekspansi guna menguasai sumber-sumber Kapital dalam bentuk monopoli. Kaum kuning sangat berani membuat kesepakatan
"Royalti fee" yang pada akhirnya, Pemilik Kedaulatan tersandra dalam bayang-bayang utang-piutang masa lalu.
Kaum Kuning, mampu mengubah wajah, Nusantara, yang sangat Agraris Konservatif, Menjadi Materialis konsumtif. Kaum Kuning berupaya menguasai tanah sebagai lahan Pertanian dan Pemukiman yang awal-nya menjadi sumber kapital Kaum Konservatif, yg pada akhirnya " Reklamasi adalah Pilihan" guna menampung Migran Aseng, dengan alasan sebagai Pekerja. Yang tidak lama kemudian, berubah jadi penduduk Indonesia jadi-jadian. Gerakan Kaum kuning, ditopan oleh ideologi Kaum Merah. Mereka silih bergantian, melancarkan siasat guna menguasai "Singga Sana" di Nusantara ter-Cinta ini.
Semrntara itu.Suasana Ke-Bhatinan yang terhimpit oleh " Kegalauan Identitas " yang tidak di Top-Up oleh rasa percaya Diri pada Kaum Konservatifa, membuat Asing dan Aseng dapat menguasai sumber "Kapital Makro dan Mikro Ekonomi". Untuk itu Kemandirian "Ekonomi kerakyatan" yg mampu kita tegaskan sebagai slogan " AKU INDONESIA" maka Bumi, Lautan, Udara dan yang terkandung di dalam-nya diper-untukkan guna kemakmuran Bangsa Indonesia Raya dapat diwujudkan.
Dala. Suasana kebhatinan ber-bangsa dan ber-negara, Pertarungan dalam retorika Kebangsaan saat ini, memberikan kesan bahwa Bangsa Indoneaia Raya, sulit mencarai sosok Presiden yang memiliki, wawasan Kebangsaan dan Keagamaan yang utuh. Apakah, mungkin suasana ini sengaja di ciptakan oleh Kaum Kuning dan Merah. Ataukah, Kolonial Ekonomi Sosialis Komunis, tidak menginginkan Presiden seorang Negarawan Sejati, yang berwawasan Kebangsaan dan Keagamaan yang utuh. Sesungguh-nya Seorang Negarawan sejati adalah mereka yang tidak terhipnotis oleh bujuk dan rayuan Kaum Kuning dan Merah, karena realitas politik di Indonesia raya menggambarkan kehancuran Kaum Kuning dan Merah pada tahun 2024 mendatang.
(Saudara-saudara KU. Mari kita bersatu membangun ini Negeri.
Persatuan akan solit kalau satu dengan yang lain saling bergandengan tangan. Oleh. Hb.IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. Senin, 13/08/2018 ).
Sabtu, 11 Agustus 2018
" POTENSI ANAK NEGERI YANG TERLUPAKAN "
Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID, M. Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Sesungguh-nya *Generasi Emas* kita Punya. Yang perlu kita lakukan adalah menggali, mendalami dan menapis butiran Emas di tengah belantara Nusantara. Baca semoga bermakna.
_____________________________________
Fenomena dis-integrasi identitas "Nasionalisme", yang dapat dirasakan oleh masyarakan di "Negara Maju" pada era Revolusi Industri. Periode antara tahun 1750-1850, di mana terjadi-nya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Keterbukaan dalam menerima perubaha tanpa menegaskan identitas budaya Bangsa dan Negara, memberikan dampak yg sangat luar biasa terhadap " Rasa Nasionalisme ".
Pada Zaman kita saat ini, Revolusi Teknologi Informasi dan Komunikasi ( TIK ), memberikan dampak positif terhadap perkembangan nalar, yang dapat memperluas akses terhadap ruang publik tak terelak-kan. Namun, terdapat dampak negativ terhadap perubahan Karakter sosial dan budaya, sehingga setiap fenomena dewasa ini, setidak-nya memberikan gambara kepada kita bahwa ada upaya sistematis memalingkan harapan "ANAK NEGERI" Untuk menjadi *Tuan* di Negeri Sendiri.
Disaat, M.Zohir memenangi lomba lari 100 Meter Dunia di Finlandia, hampir seluruh media cetak dan elektronik di Indonesia memberitakan, sampai keinginan memberikan hadiah rumah dan lainnya, tidak di tanggapi. Rasa Nasionalisme menggelora karena Pengakuan Publik Internasional terhadap prestaai-Nya sebagai kepuasan bhatin, yang melebihi hadia "tiba saat tiba akal".
Disaat Seorang Bocah dari NTB ( Jhoni ), memanjat tiang bendera sebagai rasa prihatin saat Paskibraka panik karena lepasnya tali dari ikatan. Namun rasnya jadi lain saat kita menyaksikan dari kejauhan, maka " Rasa Nasionalisme " seakan-akan membara, sehingga berbagai komentar sangat luar biasa, sampai-sampai pujian berdatanga dari Singga Sana, itu sangat luar biasa, salut dan bangga kepada setiap mereka yg sangat responsip terhadap kejadia putus-nya tali Bendera.
Disaat, " ANAK NEGERI " yang mampu, mengurai nalar interpretasi Fakta dan harapan yang mereka peroleh dari pengamatan Pematang sawah, menghasilkan karya " ROBOTIK " mampu meraih medali, di Meksico yang jumlah peserta 193 negara hanya sepintas dalam berita. Meskipun negara tempat diselenggara perlombaan Robotik iternasional sangat takjub terhadap Anak Negeri Indonesia Raya. Ini adalah satu dari sekian ratus "ANAK NEGERI" Di Indonesia Raya, yang memiliki prestasi gemilang di Pentas Internasional. Apakah, kita mampu memberikan perlakuan atau pengakuan serta Penghargaan terhadap Prestasi Anak Negeri Indonesia Raya tersebut di atas. Ataukah kita lagi sedang hilang ingatan, sehinga yang terpikirkan hanya laah fenomena Insidentil, yang menjadi perhatian " Sang Pemilik Kedaulatan ".
° Saudara-saudara KU. Berikan laah, Rasa "Hormat dan Penghargaan yang sama " terhadap Karya Cipta Anak Negeri, karena itu abadi sepanjang hayat, serta mengokohkan " Rasa Nasionalisme " yang tertanam dalam sukma terdalam°. Bung.. Kata sang Pujangga : Bergelora dalam popularitas akan membuat seseorang hina pada akhir-nya. Menegaskan jati diri adalah menjadikan "ANAK NEGERI " Menjadi "Tuan di NEGERI SENDIRI". *Marahi* laah Anak Negeri dengan *Senyum* agar mereka " Cinta ini Negeri sepenuh hati ". Sadar atau tidak kita sadari, sesungguh-nya kita sedang berada di persimpangan Jalan. Maka kewajiban kita menuntun mereka kejalan yang sebenarnya. Oleh. Habib. IDRUS AL-HAMID, Si Hilakukanis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua, 23. Agustus, 2018.... 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🙏🏽🙏🏽🙏🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽☝🏽👍🏼👍🏼
MEMAHAMI SINDROME MENTAL INLADER DALAM BAYANG-BAYANG KAPITALIS "
Dr. Habib. IDRUS AL-HAMID. M.Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Menjadi Inlander di Nusantara, bukan permintaan kita. Namun Allah telah mentakdirkan kita menjadi Anak Negeri, Indonesia Raya yang bersahaja. Baca siapa tahu ada Hikmah-nya.
_________________________________
Belanda 350 Tahun, memjaja Nusantara selalu melakukan doktrin bahwa warga pribumi adalah bangsa yang bodoh dan hanya pantas menjadi budak belanda. Bangsa yang selalu duduk dibelakang karena tidak penting kehadiran-nya saat acara-acara besar diselengggarakan oleh Pemerintah Belanda. Hal ini memberikan tekanan mental tersendiri sampai sekarang pada bangsa yang biasa disebutnya “Bangsa Inlander” ( PRIBUMI ). Wujud dari sindrom mental inlander yakni bangsa kita tidak percaya diri, tidak yakin dengan kemampuan sendiri, selalu menganggap bangsa lain lebih unggul, lebih bagus, lebih berpengalaman, dan lebih pintar.
Bangsa Asing dan Aseng dalam "Upaya" untuk merebut sumber-sumber Ekonomi dalam meningkatkan pendapatan Niaga, melakukan "insiminasi Buatan" Agar sustim Ekonomi, Kaum Nasionalis "inlader" selalu dianggap membebani Negara dalam menentukan pola perniagaan yang menjadikan sumber retribusi sebagai Kapital Pajak, sementara yang lainya, dibuat remang-remang. Artinya : Nasionalisme Inlander hanya mampu menguasai suber Kapital Mikro, karena diapit oleh Kekuatan Kapital Makro. Keberpihakan Negara seperti Malaysia mampu menghilangkan Sindrom Mental inlander (bc. Menghilangkan Ketakutan Pribumi dengan melahirkan kebijakan Penguatan Pribumi dalam Penyertaan investasi Modal hanya untuk Rumpun Melayu).
Hilang-nya rasa percaya diri, dalam mengukir karya di negeri sendiri, dapat di lihat saat para Pekerja Asing dan Aseng, diberi ruang untuk mengakses sumber Kapital. Sementara Anak negeri dibuatkan Syarat melamar kerja yg teramat sulit, disaat ingin bekerja di Negeri sendiri. Apakah mungkin para Negarawan telah hilang hati Nurani kaah itu.. ???. Ataukah serapan dan setoran tidak berbanding lurus ke Singga Sana,,???. Hanya Allah dan Para Syuhada di Negeri ini yg memahami...
(Saudara-saudara KU. Tulisan tersebut di atas, hanya bahagian terkecil dari "Fenomena" yg ada di Negeri ini. Malu rasa-nya kalau di-diamkan begitu saja. Oleh Hb.IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. (Papua,Minggu. 12/08/2018 )
Jumat, 10 Agustus 2018
" SISTEM POLITIK DAN BUDAYA KONSERVATIF MASYARAKAT BANGSAN.....???. "
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara Ku, Nyanyian, Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa, memberikan makna bahwa sesungguh-nya perbedaan tidak membuat kita saling mencela satu dengan lain-nya. Baca semoga berarti.
____________________________________
Setiap sistem politik memiliki sifat yang universal, yaitu proses, struktur, dan fungsi. Proses adalah pola-pola yang dibuat oleh manusia dalam mengatur hubungan antara satu lembaga dengan lembaga lainnya. Misalnya, dalam suatu negara ada lembaga-lembaga negara seperti parlemen, partai politik, birokrasi, badan peradilan dan sebagainya. Struktur mencakup lembaga-lembaga formal dan informal, seperti partai politik, DPR, lembaga peradilan, kelompok profesi, atau birokrasi. Fungsi dalam sistem politik ada dua, yaitu fungsi input dan fungsi output.
Sistem Politik, dewasa ini sangat menarik di "Diskusikan" karena menambah " Literasi Akademisi Setiap insan" dalam memahami kehidupan Ber-Bangsa dan Ber-Negara. Indonesia adalah sebuah Negara yg masyarakat-nya sangat beragam ( Pluralis ), sehingga struktur budaya dalam mengekpresikan dinamika politik dan pyshikologi masyarakat yang meyakini bahwa sesungguh-nya, Pemimpin adalah mereka yg "Lanjut Usia" karen sangat berpengalaman dalam memahami etika dan dipercaya dapat Mengayomi masyarakat.
Dalam pada itu, "Budaya Politik Tradisional" ditandai dengan adanya hubungan yang bersifat patron-klien, seperti hubungan antara tuan dan pelayannya. Budaya politik semacam ini masih cukup kuat di beberapa daerah, khususnya dalam masyarakat etnis yang sangat konservatif. Masyarakat tradisional seperti ini biasanya berafiliasi pada partai-partai sekuler (bukan partai agama). Hal ini disebabkan karena ketergantungan kapital dalam kelangsunga hidup sosial kemasyarakatan sangat tinggi.
Masyarakat Konservatif, selalu memahami bahwa Politik sesungguh-nya " *Tidak ada Lawan Tidak ada kawan melainkan Kepentingan"*. Sehingga keterwakilan tergambar pada Simbol-simbol yang dominan. Syarat-syarat sebuah Nilai dalam budaya Modernis, bagi setiap orang yg akan mendudukin Jabatan Tinggi, tidak di indahkan oleh Masyarakat konservatif yang menjadikan Patron-patron klein simbolis Keagamaan mampu memberikan sugesti dalam istilah "Sangu Barokah".
Apakah mungkin Sistim Politik telah mengalami "Pancarobah" di Nusantara ini, sehinga terkadang terasa Tradisional dan terkadang terasa Sekularis. Mungkinkah Sistem Politik di indonesia belakangan ini adalah perpaduan antara Sekularis dengan Tradisional menjadi sistem Politik Ramalan " SATRIO PENINGIT". Nama-nya juga ramalan bisa benar bisa juga tidak.
(Saudara-saudara KU. Apabila kita katakan " AKU Cinta Tanah Air" maka tunjukan Karya Mu, meskipun sebesar "semut-semut di dinding". Untuk itu, Menjadi Indonesia berarti harus menjadikan Perbedaan sebagai 'Rahmat Allah' dalam menghayati kemerdekaan Indonesia Raya dalam Falsafa " BHINNEKA TUNGGAL IKA". Oleh. Habib. IDRUS AL-HAMID. Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. Jum'at. 10/08/2018 )...
Senin, 06 Agustus 2018
"JANGAN JADI PENGHIANAT DI NEGERI SENDIRI - TANAH TUMPA DARA "MU" YG MULIA "
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, M. Si
CENDIKIAH TIMUR NUSANTARA
Saudara-Saudara KU :
√. Mengapa Engkau menguntai Pra-sangka sesama Anak Negeri Tanpa Tabayyun terlebih dahulu.
√. Mengapa Engkau khutbah, Ceramah dan Pidato dangan Langtang Penuh Amara, Mengkafirkan setiap Orang yg beda "Pendapat dan atau beda Pendapatan" dengan "MU". Tidak-kah kita perhatikan Para Kiyai dan Habaib tempo dulu, di Nusantara menjadikan Agama dengan Wajah yg sejuk (Wasyatiyyah). Tidak seperti di Timur Tengah, yg atas alasan memurnikan Ajaran Agama, maka mengkafirkan orang dianggap biasa, membunuh atau mempersekusi setiap orang utk tidak banyak bicara dianggap biasa.
√. Memgapa kita selalu menceritakan kekurangan Bangsa Sendiri, dan memuji bangsa yg ada di sekeliling kita. Tahu-kah kita Singapur, Malaisya, Brunaiy, Tailan, philipina dll adalah Negara yg luas-nya seperti Pulau " Reklamasi" serta Masyarakat yg di Urus tidak sebanyak Rakyat di Provinsi Jawa Timur. Kalau memang kalian tidak senang hidup di Nusantata silahkan "Cari Negara Suaka" ( bc.Sesuka Kamu ) jadi jangan bicara senak Perut "MU" kalau masih Makan Gaji di Negeri ini.
√. Mengapa kita selalu ribut hanya soal dalam Rumah sendiri, ( bc.Indonesia Raya ), Apakah kita tidak pahami bahwa : Ribut yg seharus-nya kita lakukan, jikalau Bangsa dan Negara di Rampok Sumber Daya Alam, diperkosa Hak Hidup setiap jengkal "Tanah Ibu Pertiwi" Oleh Asing dan Aseng yg tak tahu diri mereka itu siapa..
√. Kalau kita bersatu, tanpa membeda-bedakankan : *Suku, Agama, Ras dan antar golongan* , pasti kita di segani. Karena yg harus di pahami semua itu Allah yg Ciptakan Dan Tetpkan. Lalu "APA" masalah dengan kita..??? . Biarlah Allah yg memberi Hidayah Dan 'Amarah, kita hanya ikhtiar jangan sampai ditanya.
√. Jangan pernah jadikan Mimbar-Mimbar Jum'at, Majlis-Majelis Ta'lim atau wadah lainnya, Untuk menghujat, memcaci maki Serta Menebar Berita Hoax Dan mempersekusi seseorang atas nama Agama atau Budaya. Apakah perna kita dengar Rasulollah melakukan Hal yg demikian itu...???
Papua. Senin 6 Augustus 2018 )
By. HB.IDRUS AL-HAMI Si Hitam Manis yg selalu di hati MU....👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👏🏽👍🏼👍🏼👍🏼
Sabtu, 04 Agustus 2018
" PARADOKS DEMOKRASI DAN KEKUASAAN"
Dr. Hb. IDRUA AL-HAMID, S.Ag.M.Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU.____
*Setiap Kamu adalah Pemimpin, dan Setiap Pemimpin akan diminta pertanggung jawaban oleh Allahu Rabbi.* Baca dalam persepsi Akademisi..
___________________________________
Keterbukaan ruang-ruang demokrasi mesti-nya menjadi alat bagi kaum "pro-demokrasi" untuk semakin mengarah pada kualitas demokrasi yang mendekatkan rakyat pada demokrasi politik dan demokrasi ekonomi yang sesungguhnya. Namun kenyataanya justru berbeda, transisi demokrasi yang diagung-agungkan oleh aktivis mahasiswa dan pemikir politik borjuis itu malah melahirkan kematian demokrasi itu sendiri. Demokrasi yang dihadirkan kemudian adalah demokrasi semu, demokrasi prosedural, atau demokrasi bagi klas berkuasa sedangkan orang-orang miskin tetap saja tidak mendapat tempat ( Rudy Hartono. 2007).
Di dunia ini tidak ada satupun negara yang mempunyai kekuasaan absolut di dalamnya, bahkan jika negara itu dipandang sebagai negara otoriter yang mempunyai pemimpin diktator yang sedang berkuasa tidak mampu meyakinkan 100 % People Power, karena bagaimanapun juga people power adalah penentu utama keberlangsungan kekuasaan pada sebuah Negara Demokratis, karena kekuasaan absolut hanyalah dimiliki oleh Tuhan Sang Penguasa. Selain demikian, terdapat perbedaan antara Demokrasi yg dipahami oleh people Power dangan Penguasa selalu berbeda.
People power ( Pemilik Kedaulatan), selalu memahami Demokrasi adalah : Musyawarah dan mufakat, atau tegak-nya Kedaulatan Hukum dan Ekonomi serta Politik. Sememtara Demokrasi yg dipehami oleh "Penguasa" adalah, Pembagian kekuasaan dalam "Sekte Pelangi" tanpa Musyawarah telah dibuat kesepakatan. Hal ini pada akhir-nya, Kedaulatan Hukum, Ekonomi dan Budyaa mengikuti irama Sang-Penguasa. Kalaulah demikian, maka jangan heran kalau Konflik dianggap merupakan Komoditi Sosial yg tidak bisa dihindari atau dengan kata lain " Proses mengalihkan perhatian People Power".
Paradoks "Demokrasi dan Kekuasaan" jika dipahami Seperti "Bunglon" akan melahirkan Sitem "ABS" (bc. Asal Bapak Senang). Karena kelompok Borjuis menjadikan kekuasaan adalah Tujuan kemakmuran elite. Yg pada akhirnya People Power menjadikan politik transaksional sebagai tujuan kelangsungan hidup, karena ada anggapan "Demokrasi semu" yg di rasakan bukan yg sesungguhnya.
Apakah mungkin, guna tegak-nya Kekuasaan, maka senyum bukan berarti senang, Marah bukan berarti Sedih, Memilih yg terbaik bukan berarti ingin perubahan. Sehingga setiap Fenomena harus dilihat pada akar masalah, contoh Soal : adanya Pekerja Asing, bukan berarti "Pribumi" tidak memiliki kemampuan, Investasi Bodong bukan berarti melemahkan Kedaulatan Ekonomh berbasis kedaulatan rakyat ( People Power) Karena Rakya Indonesia memiliki hati nurani dalam menjaga kelangsungan Ekosistem Alam semesta di Nusantara (bc. Ketahanan Pangan Kaum Komunal).
Dalam Pementasan Pewayang, "Sang Dalang" selalu menyembunyikan siasat dalam cerita yg hanya "Sang Dalang" dengan Tuhan yg tahu. Selalu bermunculan tokoh-tokoh Fiksi, yang setiap orang sulit menterjemahkan Fenomena diruang terbuka. Terkadang dipahami perjuangan untuk kemakmuran "People Power" akan tetapi yg ada "Drama Per-Cintaan" dalam perebutan kekuasaan yg pada akhir cerita " People Power" paham maksud cerita Sang Dalang tebar Pesona dalam dialektika budaya "Blusukan atau Safari Pencitraan".
( Saudara-saudara KU. Sesungguh-Nya, tulisan sebagaimana Saya kemukakan di atas bahagian dari kegelisaan Kaum Akademisi dalam menyaksikan keberlangsungan kehidupan Ber-bangsa dan Ber-negara "INDONESIA RAYA ". Peole Power, sangat mengharapkan kedamaian dan kelapangan dalam Kebijakan Kedaulatan Hukum, Ekonoki dan Budaya. Hidup tenang bukan berarti memiliki segalanya. Kekuasaan yg Paradoks akan melahirkan Sejarah pilu dimasa datang. Oleh Habib IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. Minggu. 04/08/2018 )..🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩✌🏼✌🏼✌🏼
Jumat, 03 Agustus 2018
" CERMIN ADALAH TEMAN SEJATI, TIDAK BISA DIBOHONGI "
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID.M.Si.
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Kita selalu mengoreksi setiap individu, namun pernahkah kita ber-Kaca dari Masa lalu.. Baca dan renungi siapa tahu bermakna salam perahu Peradaban...
_____________________________________
Filosofi "CERMIN"__ Ketika Anda berdiri dihadapan cermin, "Anda" bisa melihat kekurangan-kekurangan yg tampak dan dapat membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di wajah. Anda bisa memperbaiki penampilan Anda, memperbaiki baju, menyisir rambut, dan menghiasi wajah dan lain-nya. Bahkan terkadang Anda berkali-kali melihat ke cermin, hanya sekedar memastikan dan meyakinkan diri Anda sebelum pergi. Cermin, mampu memberikan makna dalam bahasa Non-Verbal yg Universal sehingga setiap orang "Percaya Diri" bahwa dia mampu tampil meyakinkan dan mempesona sepanjang Zaman.
Dalam Paradikma Kaum Hedonis, keberhasilan sebuah Negara dalam menguikir peradaban masa depan yang gemilang Cermin-nya adalah "Barat dan Eropa" dimana kesenangan dan kepuasan adalah realita Modernis Global, sehingga setiap orang bebas ber-expresi tanpa "Cermin" yg jelas. Kaum Hedonis, menjadikan Materi dan status Sosial sebagai Wahana dalam berekspresi di dunia tanpa tujuan akhir. Kaum Hedonis menjadikan sumber Pendidikan dan Pembelajaran sebagai Cermin keberhasilan dalam meraih cita-cita, sehingga pada akhirnya "Budaya Humanis dan Relegis" dianggap Relatif karena hanya bahagian dari ritual belaka. Humanis dan relegis, dalam Pandangan Kaum Hedonis dapat memenjarakan nilai-nilai Kapital dalam Kebebasan berperilaku dalam kenikmatan tanpa Batasan.
Kalau laah. Cermin adalah cara Pandang sesuatu yg akan merubah "GAGASAN" menjadi KENYATAAN" maka setidaknya kita punya cara pandang tersendiri dalam melihat persoalan dalam etika "Ber-bangsa dan Ber-negara". Apakah gagasan kita telah bercermin pada akar hudaya Bangsa di Nusantara...???. Atau-kah, riwayat masa lalu Bangsa dan Negara di Nusantara, harus dianggap usang tidak laku untuk dijadikan "CERMIN" masa kini.
Kalau dahulu-kala, "Wawasan Wiyata mandala" atau Cara pandang "Ber-bangsa dan Ber-negara" adalah Cermin dari pemahaman bahwa " Nusantara merupakan Gugusan Pulau yg terbentang dari " Sabang hingga Merauke dan atau dari Malaka hingga Maluku" yg masyarakat-nya "Majemuk", dalam Ke-Bhinnekaan, dengan Akar budaya yg Humanis dan Religis, dan memiliki prinsip " Ber-bangsa, satu Bangsa Indonesia. Maka apa yg salah dengan "Bangsa" ini yang mungkin sedang ber-Cermin pada "Sahwa Sangka" sesama "Anak Bangsa" menusuk Sukma leluhur bangsa dan Kusuma Negara.
( Saudara-saudara KU. Masikah kita ingat kalimat Sang "PROKLAMATOR" (Bung. KARNO ) bahwa " Bangsa yg besar adalah Bangsa yg menghormati jasa para Pahlawan__ Beliau Nyatakan : " Berikan lah AKU 1000 Orang Tua Niscaya akan Kucabut Semeru dari Akarnya.__ Beliau Tegaskan : " Berikan AKU 10 Pemuda, Niscaya akan kuguncangkan Dunia.__ Beliau Ingatkan : " Perjuangan KU lebih muda karena mengusir penjajah, tetapi perjuangan MU akan lebih sulit karena melawan bangsa MU sendiri" )
Secerca Tulisan "KU" di atas mungkin bahagian dari kegelisaan, Kaum Nasionalis Sejati, atau Negarawan yg Cinta Tanah Air sepenuh hati. Atau mungkin bahagian dari ratapan "ANAK PRIBUMI" dalam mempertahankan "Kultur Leluhur Bangsa Indoneaia Raya". Oleh. Habib.IDRUS AL-HAMID, Si Hitam Manis Pelipur Lara di Timur Nusantara. Papua. Sabtu. 04-Agustus-2018.. 🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Kamis, 02 Agustus 2018
" Jum'at YANG AGUNG Di Balik Renungan Penuh Cerita Dan Renungan Penuh Realita "
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, S.Ag.M.Si
Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Budaya di Nusantara, adalah Saling menyapa sesama kita disaat pagi, siang dan petang hingga malam. Apakah masih kita lakukan..???...!!! Baca dan Resapi Makna...
___________________________________
Suatu Hari___. Di atas Pondok Tanggul Sawah, Pa.Marjan sedang duduk merenungi Fenomena kehidupan, tiba-tiba datang Abah Nawawiy. Pa. Marjan sangat terkejut karena yg datang bukam orang sembarangan. Abah Nawawiy sangat terkenal memiliki lmu "Hikmah", sehingga mampu mengetahui atau menerawang Fenomena masa depan. Pa. Marjan mempersilahkan Abah duduk, sembari dengan rasa hormat Pa. Marja memilih berdiri, namun Abah Nawawiy, menyuru Pa. Marjan agar duduk di samping-Nya, sambil membuka termos yg berisi Kopi, Abah Nawawiy menyuguhkan minum, Pa.Marjan sambil menunduk karna rasa Hormat terhadap Abah Nawawiy tidak mampu berbuat banyak karena kagum dan hormat terhadap Ahli Hikmah.
Dalam kesunyian menjelang fajar, Abah Nawawiy, mengatakan kepada Pa.Marjan. Dunia ini berada dipersimpangan jalan, karena pertarungan antara yg Hak dan Bhatil tak ter-elakan. Kalau sudah tahu demikian kita harus mengembalikan "Akar budaya" Luhur yg mulai hilang di telan oleh perkembangan Zaman.
Pa.Marja sambil tertunduk mengatakan "Abah", Saya tadi seusai Sholat Subuh datang di atas Pelatara Pondok Tanggul ini, merenungi Nasib "Anak Pribumi" yg memiliki moral dan mental "Spritual Gemilang" layaknya bintang di langit, namun tersisih oleh sistim "Kolonialis" yg Materialis. Karena segala-galanya harus dengan Uang, harus punya Koneksi, harus punya relasi. Tidak seperti dahulu kala. Anak-anak kita yg Cerdas dan berakhlaq Gemilang, di tawari mau kerja dimana. Di bujuk berbuat yg terbaik untuk Bangsa dan Agama, sehingga melahirkan "Karya Nyata" yg dikenal dan di kenang dalam Sejarah sebagaimana dilakukan oleh " Bang Ali sadikin, Umar Bakri, Akub Zainal, GUS Dur dll".
Abah Nawawiy, sambil mengeluarkan kepulan asap rokok, mengatakan kepada Pa.Marjan, bahwa yg terberat saat ini adalah mengembalikan akar budaya Leluhur Bangsa, sehibgga anak-anak "Negeri" saling menghargai satu dengan yg lain, mengakui keberhasilan dan keunggulan Anak Pribumi tanpa menjatuhkan dan atau meremehkan mereka di Negeri sendiri.
Jangan kita melihat kehidupan bagaikan Lagu : "Cubit cubitan. Sengol-senggolan". Jangan Setiap kita Merasa senang melihat orang susah atau merasa susah dan gelisa melihat orang lain sukses menembus batas-batas Peradaban Gemilang.
Lanjut Abah Nawawiy menyampaikan kata-kata Hikmah___ Pa.Marjan ingat, Siapa yg menanam Karya Se juta Pesona di Alam Zagat Raya "IA" akan di Kenang oleh penduduk Bumi dalam sejarah dan "IA" akan terkenal oleh penduduk langit yg bersemayam di rongga-rongga langit yg terbuka dan mengangah.
Melawan bukan berarti menentang seluruh kebijakan sang Raja yg menganggap diri "Maha Kuasa " biarkanlah "Sunnatollah" menguntai makna sesuai "Karma". Karena setiap orang pasti-kan merasa. Jangan pernah berdo'a untuk datang-nya "Malapetaka" karena Engkau dan orang baik lainnya pun merasakan dampak dari bencana.
Sesungguh-nya Allah bersumpah : " *Demi Massa, Manusia dalam Kerugian, terkecuali mereka yg Ber-iman, Ber-Amal shaleh dan saling nasehat- menasehati dalam kebenaran dan kesabaran".*
Banyak sekali orang ber-iman, tetapi selalu membuat orang lain tidak Aman. Banyak sekali orang yg Ber-amal Shaleh tetapi selalu mengharapkan pujian dan sanjungan. Banyak sekali orang yg merasa benar, lalu menyalahkan orang di setiap Mimbar Jum'at dan Majlis lainnya. Serta banyak orang yg tidak sabar dan selalu ingin membalas setiap kejadian. Itulah kenyataan agar kita ikhtiar dalam memaha realita menusuk Sukma di dada. Terima Kasih Abah, insya-Allah saya selalu ingat nasehat yg penuh "Hikmah" ini.____
( Saudara-saudara KU. Tulisan sebagaimana tersebut di atas, adalah bahagian dari fenomena ke-kinian yg Saya rasakan dalam berbagai acara "Seminar, Simposium dan Dialog" di Nusantara. Jujur harus kita rasakan__ apakah kita bahagian dari penderitaan Evolusi Peradaban. Ataukah kita diam karena menikmati kesendirian, (ingat berjama'ah Allah lipat gandakan Pahala Kita). Oleh.Habib.IDRUS AL-HAMID Si Hitam Manis Pelipur Lara, di bumi Cenderawasih. Papua, Jum'at 03/08/2018)
Rabu, 01 Agustus 2018
" TOKOH AGAMA DAN REALITAS BERNEGARA"
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID, M. Si
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Dahulu kita punya Guru spritual utk memerdekakan Bangsa. Mereka berdiri kokoh melawan Penjaja tanpa mengharapkan Jadi apa-apa, mereka ingin jadi syuhada NKRI Semata. ( Tulisa berikut ini adalah bahagian dari kegelisaan Akademik semata, saat melihat 'ijtima' Ulama untuk Negara ).👏🏽👏🏽👏🏽
____________________________________
Saat ini, di bilik-bilik prahara Publik yang terbuka, bermunculan perbincangan, mulai dari Kaum Awam hingga Kaum Bangsawan. Pada inti-nya mereka merasa ada sesuatu yg berbeda dengan Negeri ini. Kaum Bangsawan merasa prihatin atas merosot-nya "Nilai tukar Rupiah", yg berakibat pada naik-nya harga PAKAN (bc.Pakaian dan Makanan). Sementara itu Kaum Agamawan disibukkan dengan dinamika politik yg terbentang di ruang-ruang Publik yg terbuka dan jadi tontonan Pagi dan petang menyedihkan.
Dalam pada itu. Masyarakat Awam, merasa heran memyaksikan 'Ulama menjadikan Agama sebagai sumber ijitihad menetapkan Calon Pemimpin Negara, yg pada akhirnya, antara 'Ulama saling tersandra oleh riak-riak Politik Ber-Negara. Dalam Alam pikir bawa sadar Masyarakat Awam, sesungguhnya dipahami bahwa 'Ulama sebagai Sumber Nilai yg Humanis dan sumber tatalaku yg patuh di contohi, baik berkaitan dengan Ucapan maupun Tindakan.
Dalam benak Masyarakat Awam sesungguh-nya dipahami bahwa-sanya, Nusantara atau Indonesia Raya adalah sebuah Negara yg masyarakat-nya sangat Majemuk (Plural). Yg telah berkomitmen " Ber-bangsa satu, Bangsa Indonesia, Ber-bahasa Satu, Bahasa Indonesia dan Ber-tanah air satu Tanah Air Indonesia". Sikap berbeda pandangan adalah bahagian dari realita sosial yg penyelesaian-nya dapat dilakukan Oleh 'Ulama. Dahulu, saat 'Ulama mampu memposisikan diri sebagai Pusat Inspirasi dan Inovasi dalam kehidupan Sosial, maka Masyarakat merasakan ada kedamaian dalam diri mereka.
Di saat melawan penjajah di Nusantara, 'Ulama menegaskan sikapnya membela kepentingan Negara dengan tegas mengatakan kepada Masyarakat " Mana Lawan dan Mana Kawan". Para Kiyai dan Habaib, berkonstribusi dalam mengawal Kemerdekaan RI hingga saat ini. Sungguh mulia Akhlak mereka karena berjuang untuk kepentiangan Bangsa dan Negara Indonesia Raya, yg Masyarakat-nya sangat Plural (Majemuk), tidak seperti Masyarakat *Timur Tengah* , bertetangga aja bermusuhan hanya karena beda pandangan.
Apakah 'Ulama di Nusantara dahulu kala berbeda dengan sekarang,.. ?? karena memiliki "Nasab Ilmu" sampai ke Rasulollah, sehingga mereka mendirikan Madrasah-madrasah dan atau Pondok Pesantren guna mencerdaskan "Kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia Raya. Layaknya Rasulollh memdirikan Majelis-majelis Ilmu. Sebagai kepala Negara Rasulollah menghargai perbedaan dan mencetuskan " PIAGAM MADINA" yg memberikan kesan " ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL 'ALAMIIN". Ataukah saat ini sedang terjadi Post Power Syndrome Reposisi Kultur 'Ulama modern. (bc.Dahulu kemana-mana pake Sepeda Ontel dan di Zaman NOW, selalu di kawal di Puji dan atau di Puja dengan Status sosial layaknya Bangsawan).
( Saudara-saudara KU. Reposisi sosial berakibat pada perubahan metafora Komunal dalam defenisi Publik Figur. Di Nusantara dahulu-kala apabila ada perbedaan pandangan antara "Negarawan" mereka pasti akan mendatangi "Guru-Guru Spritual". Namun saat ini yg kita rasakan 'Ulama keluar dari markas Utama, yang akibat-nya kelompok "Radikalisme" masuk dan mengobok-obok Kesatuan Bangsa, dengan dalih malaksanakan perintah Agama.
Wahaiii Saudara-saudara KU Para 'Ulama dan Habaib Sesungguh-nya "INDONESIA BUKAN NEGARA AGAMA, NAMUN INDONESIA MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI SUMBER TATA NILAI BER-PERILAKU SESAMA ANAK BANGSA " Sebagai Contoh : Dahulu dan mungkin hingga sekarang, para 'Ulama dan atau Habaib di datangi oleh Umara' untuk sangu "Barokah" sehingga 'Ulama dan Habaib, diposisikan sebagai Ahli Hikmah dan sangat berwibawa, karena mampu memberikan untaian kalimat penuh Hikma tanpa permusuhan sesama saudata.
__Saudara KU " Cinta Tanah Air Bahagian dari Iman, Hanya orang yg imannya tidak dibalut rasa Cinta yg membuat masyarakat bingung dan bertanya-tanya tentang kebenaran "Absolusitas". Oleh. Habib. IDRUS AL-HAMID, Cendikiyah Timur Nusantata Pelipur Lara. Di papua. Kamis 2/08/2018)
" MEMAHAMI KULTUR POLITIK FEODAL DI NUSANTARA "
REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA
Saudara-saudara KU. Sesungguhnya, mengingat masa lalu itu penting dqlqm meneguhkan jiwa, tetapi mempertahankan tradisi masa lalu membuat setiap Aktor teepenjara dalam Kultur Politik Feodal. Baca semoga bermakna ____________________________________
Disaat kerajaan-kerajaan bersemi di Nusantara, berdiri Kokoh memperluas wilayah kekuasaan, dengan berbagai cara dan upaya, seluruh Potensi Alam di kuasai dan dinikmati oleh keluarga Kerajaan dan Kelompok Bangsawan ( bc. Bangsa yg merasa di Awang). Maka rakyat jelata sesungguh-nya dianggap " BENALU" (bc. Benang Kusut Melulu). Yg dijadikan tumbal utk mengokohkan kekuasaan. Sang.Raja bersama Kaum Bangsawa. Melakukan Safari JPLM (bc. Jangan Pernah Lupa Memilih ) untuk menikmati Hasil Pembangunan tanpa belas kasihan terhadap Rakyat jelata.
Di tahun 1945 s/d 1948 BPUPKI. Dalam rapatnya menyepakati bentuk Negara di Nusantara adalah " Negara Kesatuan Republik Indonesia " yg berdasar pada PANCASILA dan UUD 1945. Dengan sistim politik : Demokrasi Ke-rakyat-an artinya Kedaulatan berada di Tangan Rakyat, yg memberi mandat kepada Presiden sebagai Mandatori Kedaulatan. Jadi Presiden itu Bukan Petugas tetapi Mandatori. Karena Sistem Politik Feodal lah yg menganggap Raja memiliki hak menunjuk Panglima/Perdana Menteri utk melaksanakan tugas dan melaporkan hasil kepada Sang.Raja.
Kultur Politik Feodal sesungguhnya, kita semua Pahami, bahwa Raja-raja memiliki kekuasaan tak terbatas dalam menguasai sistim Tata "Negoro dan Sumber Daya Alam". Raja yg memiliki kekuasaan tak terbatas melakukan Kolaborasi dengan Kaum Bangsawa (bc.Pemilik Modal Aseng) untuk menguasai sumber Kapital yg dimiliki oleh Raja yg kekuasaan-Nya tak terbatas. "Budaya Politik Feodal" selalu melahirkan " Kultus Terhadap individu yg di anggap Raja dan berhak menunjuk siapa sebagai Petuga untuk ke daerah-daerah dalam wilayah kekuasaan-Nya agar mengambil dan menyetor "Upeti". Kondisi demikian memberikan keleluasaan terhadap Pemilik modal (Kaum Bangsawan), melakukan Eksploitasi Sumber Daya Alam sebagai bahagian dari konstribusi kepada Sang. Raja dan Keluarga atau Golongan yg berada dalam Kerajaan (bc.Istana).
Di Nusantara belakangan ini. Masyarakat bersikap Feodalistik terhadap sistem Tata Negara, hal ini mungkin karena Demokrasi berhadapan dengan Latar-belakang Kultur Politik Feodal, sehingga kebanyakan "Negarawan" yg Cerdas dan Berkompetens untuk tampil dan dipilih oleh Pemegang Kedaulatan, sangat sulit tampil untuk merubah Sistim Tata Negara dalam berbentuk "Demokrasi Kerakyatan Berkeadilan". Sebagaimana pada Tahun 1950 MPRS telah menetapkan : PANCASILA, BHINNEKAAN TUNGGAL IKA, NKRI DAN UUD 45. Merupakan Sumber Nilai dalam ber-bangsa dan ber-negara guna menghilangkan Kultur Politik Feodal model Asing dan Aseng.
Dalam perkembangan dewasa ini di Nusantara setelah ORDE BARU dan Muncul-nya ORDE REFORMASI. Sistem tata negara mulai berubah dari sistem Parlementer menjadi Presidensial, yg pada akhirnya menggiring Masyarakat untuk berfikir Feodalistik dalam melihat kekuasaan dan atau Negara.
Kalaulah demi-kian adanya, maka jangan heran kalau "Politik Transaksional" adalah budaya yg tumbuh dalam "Paradikma Masyarakat Komunal" dewasa ini tidak bisa di salahkan. "Budaya Feodal" yg tumbuh dalam masyarakat, akan menyandra setiap "Negarawan yg berpotensi dan Cerdas" tetapi kurang Modal untuk menjadi "Calon Mandatori" Rakyat di seluruh Nusantara, ini di-karenakan yg di hadapi adalah Kaum " SEKUTU SE-GAJAH".(bc.Tafsir sendiri ).
(Saudara-saudara KU. Andaikan Syarat Menjadi "PRESIDEN" di haruskan punya Pengalaman Jadi Menteri atau Rektor pastilah " Dunia terasa indah bagaikan kisah 1001, malam. " dan berubah memjadi, " Gelora Muda Perkasa ".
Andaikan Kaum Feodalistik selalu menyanyikan Lagu "Suci Dalam Debu" Pastilah Dunia ini terasa Indah dan menawan tanpa permusuhan merebut kebahagiaan. Di Nusantara kata seorang Supir Tax Online " Anak Negeri yg Cerdas dan Negarawan" mencari suaka untuk mengukir karya di Negeri Jiran, karena di Negeri sendiri dianggap sulit punya kawan yg mengakui "Karya Gemilang" yg mempesona. Oleh Hb.IDRUS AL-HAMID Si Hitam Manis, belahan jiwa Indoneaia Raya. Papua. Rabu 01/08/2018)
Langganan:
Komentar (Atom)
" MUNGKINKAH INI POLITIK DOMINO JEBAKAN BATMAN, ALA RATNA SARUMPET "
Dr. HABIB IDRUS AL-HAMID. M. Si Rektor IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA _____________________ Saudara-saudara KU. Terkadang kita harus berhen...
-
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA Saudara-saudara KU, Hidup itu sementara, berbuatlah yg terb...
-
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA Risalah kecil ini adalah usaha seorang insan kerdil untu...
-
Dr. Hb. IDRUS AL-HAMID REKTOR IAIN FATTAHUL MULUK PAPUA Saudara-saudara KU, Tatkaka Agama berada dalam simbol-simbol dinamika sosia...















